“Terusik”

Jika raga sedang “terusik”, maka solusi untuk menenangkan raga agar segera terhindar dari rasa “terusik” mudah dilakukan. Apakah penanganannya akan sama mudahnya jika yang “terusik” adalah jiwa?

Kederangannya memang sangat dalam untuk dimaknai. Sekaligus sulit juga untuk ditangani.

Seorang hamba yang masih mengimani Allah SWT sebagai pegangan hidupnya, bisa saja meluapkan jiwanya yang sedang “terusik” itu melalui derasnya air mata dalam sujud. Kemudian mengungkapkan perasaannya melalui doa. Lalu menentramkan kembali kalbunya melalui ayat-ayat cinta dalam Al-Qur’an.

Sekejap, terapi-terapi tersebut memang ampuh meredam hati sang hamba yang sedang “terusik”. Namun ketika alam sadarnya kembali mengganggu husnudzan yang telah susah payah dibangun, jiwa itupun kembali “terusik”.

Keputusan-keputusan berat yang hampir disepakati kembali memudar, berhamburan ke segala arah sampai-sampai kesulitan untuk memungutinya kembali.

Sebenarnya siapa yang salah?, apakah karena sesungguhnya terapi-terapi tadi kurang ampuh? atau si hambanya yang belum mampu menopang jiwanya dengan kuat?.

Ya, ternyata si hamba hanyalah orang yang lemah tapi ingin dibilang kuat. Orang yang rapuh tapi ingin disebut tegar. Orang yang selalu tergesa-gesa tapi selalu menamai dirinya sabar.

Lalu apa yang harus dilakukan dengan terapi-terapi itu? setelah ditelusuri, beberapa terapi itu memang belum cukup mengobati jiwa yang sedang “terusik”. Masih banyak terapi-terapi lain yang harus dilakukan oleh hamba tersebut.

Jadi, mampukah ia? mungkinkah ia istiqamah?

8 Juni 2010

One thought on ““Terusik”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s