Suratku Sudah Jadi

Seperti biasa, hari ini aku keluar rumah jam 08.00 untuk mulai aktifitas. Kali ini jadwalnya ke kampus, ke Pengadilan Agama untuk wawancara skripsi dan terakhir ke DKM (Dewan Kesenian Malang) latihan khot .

Menindaklanjuti cerita panas kemarin. Saya langsung menuju gedung rektorat lantai dua ke kantor BAK. Saya sudah agak deg-degan mempersiapkan diri untuk adegan panas selanjutnya. Kali ini kata-kata apa yang akan saya luncurkan untuk menangkis semua alasan-alasan atas keberadaan suratku yang masih ghaib. Hehe…. Masuk ruang BAK, wajah yang saya cari kali ini adalah wajah orang yang terakhir saya ajak bicara di kantor ini. Orang itu sedang duduk di kursinya di depan computer. Tepat ketika dia sadar akan keberadaan saya, dengan senyum mengembang dan dengan nada yang menyenangkan dia menyapa saya.

Karyawan: “ada apa mbak?” (senyumnya seolah-olah tak pernah terjadi apa2).

Diyya: “ambil surat pak” (masih heran dengan ekspresi karyawan yang mencurigakan. Apakah lupa atas kejadian kemarin, atau sengaja menampakkan raut seperti itu. Saya tak tahu)

Karyawan: “ya, surat apa mbak?”

Diyya: (eh…malah tanya surat apa) “surat pengajuan beasiswa pak”

Karyawan: “oh iya, biar diambilkan” (sambil menginstruksikan bawahannya untuk mengambil surat atas nama diriku”

Tidak sampai 10 detik, surat itu sudah diberikan pada saya. Oh… ternyata sudah jadi, saya seharusnya merasa aneh atau merasa senang ya? Yang jelas keduanya saya rasakan sambil berlalu meninggalkan ruangan BAK, tak lupa sebelumnya berterimakasih pada petugasnya.

Ketika berjalan keluar saya bertemu dengan seorang kawan yang baru saja mengambil surat serupa di kantor BAK. Saya pinjam suratnya dan membandingkan dengan surat saya. Kecurigaan saya terbukti. Perbedaan surat saya dan surat kawan ada di salah satu bagian penting surat ini yang tidak saya bisa publikasikan. Punya teman saya bisa dipastikan asli, sedangkan punya saya terkesan dupiklat/scan/fotokopi atau semacamnya yang jelas tidak asli.

Tapi bagian terpenting dari akhir kisah surat beasiswa ini adalah surat saya sudah jadi. Sekalipun terkesan tidak asli, namun surat saya masih bisa dikatakan autentik karena pihak yang berwenang yang membuatkan. Itulah solusi yang saya inginkan. Kewajiban saya adalah mengumpulkan berkas dengan lengkap serta mengumpulkannya ke BAK tepat waktu, dan kewajiban BAK adalah memproses surat sampai pada deadline yang telah diatur. Hari ini telah melebihi batas deadline, maka saya berhak menuntut apa yang seharusnya saya dapatkan. Terimakasih BAK. Semoga pelayanannya semakin maksimal dan menyenangkan.🙂

Malang, 25 Maret 2010

3 thoughts on “Suratku Sudah Jadi

  1. Alhamdulillah….Alangkah indah dunia ini dengan seizin dari-Nya Alloh SWT,hamba yang hina ini masih diberi kesempatan untuk bisa mengenal makhluk ciptaan-Nya yang lain.
    Entah harus ku tulis dan ku mulai dari mana untuk bisa mengatakan, betapa kagum dan takjubnya hamba. Membaca kisah-kisah perjuangan dalam menuntut ilmu di setiap harinya, melewati hari-hari dengan berbagai rasa. Sayang ku tiada pernah ada di sampingnya untuk berbagi sejuta kisah duka, canda, dan tawa. Harapku dan ingatku selalu dalam doaku, Semoga Alloh SWT selalu meridhoi perjuangan engkau sahabat.
    Semangat yang begitu membara kulihat di kedua pelupuk matanya, menyinarkan sejuta cerita yang syarat membawa makna dan hikmah.
    Dimanapun keberadaanmu seperti cahaya yang selalu menyinari gelapnya malam yang menanti sang mentari.
    Semoga sahabat menjadi umat yang bisa dibanggakan dihadapan Alloh SWT dan Rasul-Nya.
    Amiin….

  2. Pingback: kumpulan hadist tentang pernikahan | Sragen News Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s