Cumi oh… Cumi

Cumi-cumi atau yang orang jawa bilang “iwak nos” menjadi salah satu menu favoritku. Bukan tanpa alasan, tapi karena tempat tinggal nenek dari ibu ada di pasuruan dekat pelabuhan, sering menyajikan menu sea food setiap kali keluarga silaturahmi ke sana, atau nenek yang berkunjung ke Ngawi. Kebetulan aku dilahirkan untuk tidak alergi memakan ikan laut. Tidak seperti kakakku yang pernah makan kepiting buat sarapan, lalu waktu sekolah seluruh badannya bengkak semua seperti habis digigit semut gajah, hehe,,, Kalau aku, mau kepiting, udang, kerang, kupang dan cumi-cumi semuanya ahlan… ^_~ Alhamdulillah.

Ibuku tak diragukan lagi sudah pasti mahir dalam meracik masakan ikan laut. Masih ingat waktu kecil kesan pertama merasakan kelezatan cumi-cumi yang kuahnya hitam karena tinta yang masih tertinggal dalam perut cumi-cumi meski sudah dibersihkan. Tapi jangan salah, justru disitulah letak kekhasan rasa cumi-cumi (mungkin karena makan tinta cumi-cumi aku jadi seneng nulis khot J). Diah kecil pasti “imbuh” makannya kalo dimasakin cumi-cumi. Akhirnya kesukaan itu berlanjut sampai sekarang. Jika sedang liburan panjang kuliah, di rumah kakakku tersayang pasti masakin masakan kesukaan. Jadi terharu… hiks…hiks…

Yang lebih terharu sekaligus lucu, ketika dulu ada acara akad nikah keponakan di probolinggo. Budeku namanya bude ma’muriyah, beliau adalah nenek dari keponakanku yang mau akad nikah. Karena kami satu almamater (adik kelas), jadi bude menyuruhku agar mengantar keponakan pulang karena kondisi di probolinggo tidak memungkinkan jika harus jemput ke Malang. Kami berangkat pagi, dan sampai rumah sekitar jam 2 siang. Sesampai di rumah, kami disuruh makan, dan salah satu dari menu masakannya adalah cumi-cumi. Ternyata bude tidak lupa dengan kesukaanku sehingga sengaja menyediakan cumi-cumi buat aku. Alhamdulillah…

Keesokan harinya, pagi-pagi aku diajak ke pasar sama bude. Sudah muter-muter beli keperluan, kami mampir juga di penjual ikan laut. Aku fikir g mungkin lah mau beli cumi-cumi lagi, lawong kemarin sudah. Eh… ternyata bude benar-benar beli cumi-cumi lagi, jadi enak ni…. Hihihihi…. Tidak salah lagi, hari kedua di probolinggo aku makan cumi-cumi lagi.

Hari ketiga, waktu sarapan dan makan siang, cumi-cuminya otomatis masih ada karena baru beli kemarin. Jadi maaf, untuk lauk-lauk yang lain harus ngalah karena aku harus memprioritaskan cumi-cumi, hehehe….

Hari keempat alias hari terakhir karena sebelum dhuhur aku berangkat ke malang. Pagi-pagi sudah merasa tidak enak perut, kayaknya ada yang over dosis nih. Aku tetap husnudzan, mungkin dah waktunya, hehehe…. Nah, waktu mau sarapan, aku bathin “kali ini pasti cumi-cuminya dah habis, jadi aku mau makan menu yang lain”. Ketika benar-benar sarapan, ternyata aku masih mendapati cumi-cumi tersaji di meja, wah,,,, kok masih nongol aja ni cumi-cumi, kayaknya ini porsi terakhir yang sengaja disisain buat aku karena tinggal sedikit. ‘ala kulli haal, aku santap saja yang tersisa. Dan setelah sarapan, perutku benar2 protes, bahkan mungkin darahku saat itu berwarna hitam karena kebanyakan makan cumi-cumi…. Ahhhhhh…..

2 thoughts on “Cumi oh… Cumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s