Firasat ???

Lebih tepatnya bukan firasat, tapi perasaan gak enak yang kebetulan tepat.

Beberapa bulan lalu sekitar bulan oktober, perasaan hati sedang diliputi gelisah. Kegelisahan yang rumit untuk diutarakan, apalagi dicarikan jawaban. Berusaha mencari arti tapi tetap saja sepi. Menerka-nerka, tapi justru hal menakutkan yang aku temukan. Dengan sekuat tenaga lari dari spekulasi, berharap bayangan-bayangan itu segera menepi. Aku hanya bisa berserah diri dan husnudzan, mengisi kembali ruang sabar dengan persediaan yang banyak. Entah akan aku pakai sendiri atau untuk diberikan pada orang lain.

Selasa pagi berangkat kuliah seperti biasa. Berkumpul di depan ruang kelas bersama teman-teman yang lain, menanti dosen yang belum juga menampakkan diri. Tiba-tiba ada suara orang lari dengan nafas terengah-engah sambil memegangi hape lari mendekatiku dan teman-teman. Dia bilang  “aku ditelfon yudi, dia izin tidak bisa ikut kuliah, ayahnya meninggal, sekarang dia berangkat ke Banjarmasin, mohon doanya” terpotong-potong tapi tegas. Ekspresi ini tiba-tiba berubah, terpaku, merasa tidak percaya, seakan-akan aku sendiri yang tertimpa musibah itu. Entah kenapa aku hanya merasa bagaimana jika kabar ini terjadi kepadaku,,, na’udzubillah,,, ya Allah hamba mohon lindungi orang tua dan keluargaku dimanapun mereka berada. Amin.

Dia memang bukan teman dekat, tapi salah satu teman baik, karena selain satu wali dosen, secara tidak langsung kami menjadi rival akademik,meski aku tahu bahwa sebenarnya aku tak akan sebanding. Memiliki orang tua yang sama-sama bekerja di lingkungan pengadilan agama, membuat teman-teman sedikit punya cara pandang yang berbeda terhadapnya. Hal ini juga sempat dia keluhkan kepadaku. Sekarang, cita-citanya hanya satu, mewujudkan amanah ayahnya untuk meneruskan jejak beliau menjadi seorang hakim.

Selang beberapa hari, ada sms dari seorang teman, mengabarkan bahwa ayah dari anggota SR (Seni Religius) telah meninggal. Kali ini yang terkena musibah bukan teman baik lagi, tapi teman dekat. Senior disebuah organisasi seni, selisih dua tahun di atasku. Kami merasa memiliki posisi yang sama dalam latar belakang dan  memiliki cara pandang yang sama dalam beberapa hal menjadikan kami dekat. Untuk alasan apa lagi sehingga aku tidak simpati dengan musibah yang dihadapinya sekarang. Subhanallah, mengapa hamba merasa keadaan ini semakin mendekat.

***************************

Minggu pagi di bulan November, sedang bersiap-siap pergi ke banyuwangi untuk takziyah. Setelah sarapan, mengambil gelas di rak untuk minum. Tiba-tiba gelas yang sudah ditangan terlepas dari genggaman. Gelas mug yang aku bawa dari rumah pun pecah. Bisikku dalam hati “ada apa ini?”, ah… terlalu berlebihan, kalo memang sudah waktunya pecah ya pecah saja, tidak perlu dihubung-hubungkan dengan perasaan. Beberapa menit kemudian, ada telfon dari teman dekat keponakanku. “mbak… mbah kung (pakdeku) meninggal mbak…”. Perasaan ini tertekan mendengar kabar itu, tak percaya, pikiran kosong ini menjadikan mataku berair. “ya, sekarang juga mbak ke probolinggo”. Latihan kaligrafi bersama teman2 elkamal dan takziyah ke banyuwangi tidak bisa aku ikuti hari ini. Meski belum pernah ke probolinggo seorang diri, tapi tanpa keraguan sedikitpun aku langsung berangkat. Teringat beberapa kejadian akhir-akhir ini membuat pikiranku kosong. Baru beberapa minggu yang lalu aku ke probolinggo menghadiri akad nikah keponakan yang belum sempat diresmikan. Kini harus kesana lagi, menjenguk pakde untuk yang terakhir kalinya. Begitu saja muncul kenangan dari beliau ketika terakhir kali kesana. Suasana pagi hari di probolinggo, aku, keponakanku dan teman keponakanku duduk santai di teras rumah bersama pakde rowi. Terus terang baru kali ini aku punya kesempatan duduk langsung dan berbincang-bincang dengan beliau, beliau bilang kepada saya “nanti kuliah s2-nya berangkat dari sini saja, sambil bantu yayasan, kuliah s2 kan tidak sepadat kuliah s1 kan?”. Diulang-ulang pesan itu sehinnga membuat aku kaget. Dengan nada berharap beliau bilang seperti itu, sepertinya tidak mungkin. Sosok pakde rowi yang sy tahu tidak banyak bicara (dan tidak pernah bicara dengan aku), sekali bicara pasti tentang nasihat. beliau terlihat tekun dan tidak neko-neko. Membuatku berkesimpulan bahwa beliau hanya tahu bahwa aku keponakan beliau yang kuliah satu kampus dengan cucunya, itu saja dan tidak lebih. Tapi mendengar beliau berucap seperti itu membuatku haru, namun aku hanya tersenyum tanpa berkomentar. Hari itu juga bude yang lagi merapikan baju2 pakde manggil aku, ternyata aku diberi baju hangat seperti jumper miliknya pakde. Aneh kannn?????

Ada yang menarik juga. Ketika sudah sampai ke probolinggo dan turun pabrik sasa, aku naik angkutan menuju desa kediaman pakde. Sampai pada pertigaan desa tarokan, hanya tersisa sekitar kurang dari satu kilometer aku sudah sampai, tapi aku bagaimana caranya bisa sampai kesana?. ingat dulu bude pernah bilang, “kalau mau ke sini sendiri, jangan lupa telfon nanti biar dijemput, karena dari pertigaan desa tarokan menuju rumah tidak ada kendaraan”. Tapi di saat seperti ini bagaimana aku mau telfon atau sms, siapa yang sempat buka sms untuk baca pesan dan menjemputku, entah bagaimana nanti bisa kesana, pasti ada jalan. Karena gerimis hujan semakin deras, aku berteduh di pos kampling di sudut pertigaan, bersama bapak2 yang memakai seragam dinas pemerintahan. Bapak2 ini sepertinya bukan menunggu hujan reda, mungkin mereka sedang mengamankan jalan, Karena setelah aku perhatikan mereka terus melakukan kontak dengan orang memastikan kondisi dan keadaan jalan. Sayup-sayup mendengar percakapan mereka “la iya, baru saja lengser dari DPR sekarang hidupnya juga lengser”. Pak de rowi memang beberapa bulan ini baru saja purna tugas dari anggota DPR pemerintahan SBY selama 4 tahun terakhir. Kemudian salah seorang dari mereka bertanya padaku “mau kemana mbak?”, “mau ke pondok raden fatah pak, ke rumah pak de saya meninggal”, “lho smpyn mau ke pak rowi juga? Kami juga mau kesana, smpyn apanya pak rowi?”, “sy keponakannya dari ngawi”, “kalo gitu bareng sama kami saja mbak, kami sedang menunggu mobil bupati, nanti smpyn naik mobil bersama pengawal di belakang mobil bupati”. Tuh kan… apa aku bilang, pasti ada jalan, Alhamdulillah…

********************************

Liburan idhul adha di kampung halaman. Di rumah, merapikan tumpukan foto-foto lama, sebagian foto sejarah tentang keluarga besar dan mbah kung zaman dahulu, sebagian lagi foto-foto keluargaku yang kebanyakan terkena banjir 2 tahun lalu. Abah juga menemaniku sambil sesekali menjawab pertanyaan2ku tentang sejarah yang tinggal terekam oleh sebuah kertas bergambar. Beberapa foto terlihat gambar seorang tokoh, membuatku ingat bahwa aku juga punya foto kenangan bersama beliau. “foto kulo sing kaleh -…………….- niko pundi bah?” tanyaku pada abah, “oiya, kok gak ono yo nduk, sing kene banjir wis di kumpulno, fotomu ono kok, sek tak goleki nang koper”. Hehe… abah sampe bela2in buka koper tempat menyimpan dokumen penting dan kenangan lama hanya untuk mencari fotoku. Tapi ternyata gak ketemu, gak papalah, yang penting beliau masih sugeng. Sebenarnya foto itu tak sengaja memuat gambarku juga. Dulu ketika kelas 3 MI diajak ke Jakarta menghadiri pernikahan sepupu. Maklum abah anak ke 9 dari 11 bersaudara, jadi meski aku masih kecil, dengar bahasa sepupu menikah sudah tidak aneh lagi. Waktu itu ketika hari H acara pernikahan, di sebuah ruang tamu terlihat rame. Aku memakai baju setelan warna biru yang dibelikan ibu, sambil membawa bando, aku memperhatikan aktifitas orang-orang dewasa itu. karena tahu ada fotografer mau mengabadikan momen di ruang tamu itu, aku tiba-tiba mendekat menghampiri abah yang sedang duduk di kursi utama ruang tamu tersebut, sengaja agar ikut terjepret dalam foto. Hehe… ternyata penyakit fotoholic sudah ada sejak kecil.

Beberapa waktu setelah pulang dari Jakarta. Aku dan abah nonton berita, dan kebetulan ada acara wawancara dengan tokoh besar itu. Aku kaget, dan tanya sama abah “wi gak yo wong seng neng Jakarta to bah? Kok ono neng tv”, tanyaku polos. “wi jenenge gus dur, Awakmu yo tahu foto ngono loh?” setelah ditunjukkan fotonya, ternyata benar. Gus dur yang di tv kebetulan memakai baju yang sama dengan yang dijakarta waktu itu, baju biru  dengan ornament bathik itu ternyata baju kesayangan gus dur. Aku mudah mengingatnya. Karena sejak melihat gus dur pertama kali di tv, setelah itu aku sering mendapati gus dur memakai baju yang sama di acara yang berbeda.

Sekitar satu bulan yang lalu, aku tertarik dengan file download yang ada di laptop teman. Ada rekaman wawancara eksklusif dengan gus dur di acara kick andy. Aku copy file itu dengan niat ingin mengenal gus dur kembali.

Tepatnya enam hari yang lalu, seperti biasa membaca Koran di kantor SR. berita utama waktu itu adalah berita bahwa gus dur telah operasi cabut gigi geraham kiri bawah. Foto dengan gambar gus dur yang sedang dibopong dari kursi rodanya menjadi foto utama di Koran jawa pos hari itu. aku merasa gus dur terlihat tidak seperti biasa, meski diberitakan sedang sakit, tapi menurutku wajah beliau telihat fresh tidak seperti biasa. melihat wajah gus dur yang sangat jelas itu, hati kecil ini berkata, “alhamdulillah dalam umur ini gus dur masih diberi panjang umur, seorang tokoh seperti gus dur nantinya akan lebih dikenang jika beliau bepulang kelak atas segala jasanya baik yang nyata maupun jasa yang tak diakui orang.” Bukan maksud perkataan hati ini kurang ajar, tapi memang terbesit begitu saja tanpa terfikir.

2 hari yang lalu ketika ngenet, dalam satu waktu dapat 5 sms yang isinya sama2 memberitakan bahwa gus dur telah wafat. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Dan Barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam Keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, Maka mereka Itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang Tinggi (mulia),

(THAHA: 74-75)

`tBur ¾ÏmÏ?ùtƒ $YYÏB÷sãB ô‰s% Ÿ@ÏHxå ÏM»ysÎ=»¢Á9$# y7Í´¯»s9résù ãNçlm; àM»y_u‘¤$!$# 4’n?ãèø9$#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s