Lampu Merah itu

Alhamdulillah, sebelum ganti tahun punya kesempatan upload cerita yang belum sempat dibagikan. Ini cerita ketika liburan semester 6 kemarin, setelah padat dengan UAS, MTQ dan PKLI bikin tenaga dan fikiran penat. Akhirnya kunjungan ke kampung halaman, menjadi momen yang sangat aku nantikan waktu itu.

Seperti biasa, di rumah aku akan disibukkan dengan tugas-tugas yang diberikan oleh abah, ibu, kakak2ku bahkan keponakan-keponakanku. Mulai dari backup data pengajian, memperbaiki tulisan whiteboard di masjid, mengantarkan keponakanku chilya ke sekolah, mengajak bermain faqih, mengantarkan ibu ke pengajian, belanja di pasar, beli sarapan nasi pecel, mengantarkan kakak keduaku ke walimatul ursy temannya di madiun yang sama sekali aku gak tahu rumahnya dan terakhir mengantarkan kakakku ziarah ke pesarean mertuanya di dolopo Madiun (tradisi ziarah sebelum masuk bulan puasa). Untuk tugas yang terkhir ini ada cerita menarik (cerita yang sebelum terakhir juga menarik sih!).

Sore setelah ashar, aku membonceng kakakku dan keponakan kecilku faqih, dan mas iparku dengan chilya (kakakknya keponakan kecilku😀 mbulet…). Ketika dalam perjalanan menuju madiun melewati jalan pintas di Gandu, keluar dari jalan gandu belok kiri dan aku telah mendapati jalan kota madiun. Stop…. dan tiba2 polisi menghentikan sepeda motorku tak jauh dari pertigaan yang baru saja aku lewati. Aku yang sedang membonceng kakaku dan keponakanku yang belum genap berumur dua tahun turun dari sepeda motor dengan perasaan was-was.

”Selamat siang mbak! Bisa tunjukkan surat2nya?” Polisi itu mulai menginterogasi sedangkan aku belum sadar bahwa aku telah melakukan pelanggaran. Aku merasa tenang karena aku telah memiliki surat2 yang diminta oleh pak polisi. Seketika aku membuka jok sepeda motor untuk mendapatkan STNK yang selalu abah simpan didalamnya, namun nihil… kegelisahan pertama mulai muncul. Kegelisahanku bertambah ketika aku ingat bahwa dompet yang berisi SIM-ku berada di jok motor yang dikendarai oleh kakak iparku yang telah melaju lebih dahulu. Meski aku yakin bahwa kakak iparku telah jauh melesat mendekati tujuan, aku tetap mencoba menghubungi berharap dia kembali dan menunjukkan SIM-ku. Telfon tidak di angkat dan aku semakin gelisah…. pak polisi yang terlihat galak mendekatiku dan bertanya, ”mbak… lawong yang lain berhenti kok sampeyan jalan terus, smpyn apa gak lihat ada lampu merah?”, aku menjawab dengan menyesuaikan nada bicara pak polisi tersebut, ”maaf pak saya gak tahu”, aku memang benar2 tidak menyadari bahwa pertigaan yang aku lewati ada lampu merah (setelah diselidiki ternyata lampu merahnya memang gak strategis, huh!), namun sebagai orang yang tahu hukum aku mengakui bahwa tahu tidaknya aku terhadap lampu merah yang baru aku ’terabas’ maka aku tetap dianggap melanggar lalu lintas. Pak polisi menaikkan nada suaranya, ”mana mungkin smpyn gak tahu ada lampu merah tho mbak?”, aku juga menaikkan suara, ”lho pak, pertanyaan bapak kan apakah saya tahu ada lampu merah atau tidak?, wallahi jika ada al-qur’an di sini saya berani bersumpah kalo saya benar2 tidak tahu ada lampu merah (waduh…segitunya), tapi jika secara tidak sengaja saya memang telah melakukan pelanggaran, maka saya siap dikenai sanksi pak!”, jawabku tegas dan menggebu-gebu,,, pak polisipun diam, dan tanpa menanggapi beralih pada para pelanggar lalu lintas yang lain. Sementara itu aku mencoba menenangkan fikiran untuk mendapatkan salah satu surat untuk bisa kutunjukkan kepada polisi, aku menelepon abah dan tidak lama aku tahu dimana harus menemukan STNK. Seketika lega bisa menunjukkan STNK meski tanpa SIM. Pak polisi memeriksa dan berkata ”ya sudah mbak, silahkan dilanjutkan perjalanannya dan hati2”. Aku terkejut tapi urung memperlihatkan ekspresiku ini kepada mereka, fikirku dalam hati ”segera tancap gas sebelum polisi berubah fikiran untuk menarik sejumlah uang demi menebus pelanggaran yang tidak sengaja telah aku perbuat, hehehe…..”

4 thoughts on “Lampu Merah itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s