Last But Not Least

Alhamdulillah… akhirnya sampai juga pada puncaknya. Tapi aku belum bisa pasang bendera sebagai tanda aku telah tiba pada hari ini. Karena menancapkan bendera masih butuh serangkaian proses lagi. Dan saat ini proses itu sedang aku jalani. Proses yang singkat tapi lumayan butuh usaha yang kuat. (paragraph retorika?😀 )

Sebenarnya hari ini dah gak bisa dibilang lagi kuliah terakhir. Kuliah terakhir itu seharusnya dilaksanakan hari selasa kemarin. Sedangkan hari ini adalah hari sabtu (ya iyalah), maksudku hari cuti bersama sejak tanggal 4 desember 2009 sampai 28 desember 2009 yaitu senin lusa. Karena alasan pertemuan kuliah masih ada yang kurang satu pertemuan untuk jadwal hari sabtu, maka dosen minta hari ini tetap masuk kuliah. Maklumlah beliau berprofesi sebagai Hakim di PA Jember (saat ini), dan hanya punya waktu kosong sabtu dan minggu. Jadi ya demi kemaslahatan kami manut aja.😀

Jadi ingat kuliah minggu sabtu yang lalu. Kelompokku dapat giliran praktek sidang untuk perkara itsbat nikah. Masing-masing peran sudah dibagi untuk 9 orang, dan aku kebetulan dapat jatah hakim anggota. Namun karena hakim ketuanya mendapat halangan, akhirnya terjadi pergeseran peran. Aku bergeser ke kursi tengah alias hakim ketua dan teman yang seharusnya menjadi hakim ketua bergeser ke depan meja hijau alias Pemohon I. Untungnya dah dapat pengalaman mengikuti sidang di PA Kota Malang waktu PKLI, ditambah dengan modul hukum acara, insyaAllah  sudah punya gambaran bagaimana nanti harus berperan.

Ku ketok palu –penghapus whiteboard– tiga kali sebagai tanda dibukanya sidang. Beberapa proses pemeriksaan sudah dijalankan. Saatnya memeriksa saksi terakhir, dan hakim ketua bertanya kepada Pemohon I ;

Hakim ketua: “Pak Aziz (Pemohon I), apakah benar apa yang disampaikan oleh pak Irvan (saksi III), atau anda keberatan dengan kesaksian pak irvan?”.

Pemohon I: “Keberatan bu, pernyataan bahwa saya pinjam uang sebesar 100 Ringgit sebagai mahar itu tidak benar bu, itu uang saya sendiri”.

Hakim ketua: “bagaimana pak Irvan, pak aziz keberatan dengan pernyataan bapak tadi, bagaimana yang sebenarnya?”,

Saksi III: (masih kekeuh) “tidak bu, asli saya masih ingat bahwa Aziz ini pinjam uang ke sy bu”.

Hakim ketua: (agak jengkel) “bagaimana pak aziz?”

Pemohon I: “Sumpah bu hakim, itu uang saya sendiri, saya tidak pinjam pak Irvan untuk membayar mahar”

Hakim Ketua: (benar2 jengkel) “Pak Irvan, tolong katakan yang sebenarnya, bapak tadi sudah disumpah, jadi apapun yang bapak sampaikan harus benar adanya, jika ternyata bapak memberikan kesaksian palsu, bapak bisa kena tindak dipidana.”

Saksi III: “iya bu benar, pak Aziz pinjam uang 100 Ringgit dari saya untuk membayar mahar.”

Hakim Ketua: (Gludak) “baik, sidang kita lanjutkan ke proses selanjutnya (mengalihkan perhatian).”

Waktu latihan simulasi sidang memang tidak ada cerita pinjam uang untuk mahar, tapi Irfan gak ikut latihan simulasi, jadi mungkin dia gak tahu. Awalnya Aku fikir apa yang dikatakan oleh Irvan itu adalah skenario dia sendiri untuk improvisasi, jadi aku ikuti aja dulu, paling habis ini dia meralat apa yang diucapkan. Eh…. Dah berulang kali ditanya masih ngeyel aja, padahal aku dah menunjukkan ekspresi isyarat bahwa dia harus meralat ucapannya karena tidak sesuai dengan skenario sebenarnya. Ya udahlah, keburu ketahuan pak Edi bahwa ada ketidaksesuaian ini, aku langsung alihkan ke proses selanjutnya saja (slamet  :D).

Ada yang lucu lagi, ketika giliran para hakim anggota untuk memeriksa saksi-saksi yang lain, aku manfaat untuk santai sedikit karena dari tadi sempat tegang. Kuseka peluh yang membanjiri wajah… eh… teman2 sekelas malah tertawa, kuseka sekali lagi, dan mereka tertawa lebih keras (Ada apa sih?😦 ). Ternyata sisa boardmarker yang masih menempel di penghapus whiteboar yang dari tadi aku pegang sebagai pengganti palu nempel semua di wajahku… (memalukan dunia persidangan😀 )

ya… akhirnya masa2 kuliah telah jadi kenangan. sekarang saatnya berjuang untuk Ujian Akhir dan segala proses menuju wisuda Mei 2010 (Amin Ya Allah!). Mohon Doanya!

Malang, 26 Desember 2009

5 thoughts on “Last But Not Least

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s