Haji Perpisahan

Perpisahan memang identik dengan rasa kesedihan. Berpisah dengan orang lain, terutama jika berpisah dengan orang terdekat, akan menimbulkan rasa kehilangan. Tapi jika ditinggal oleh orang karena akan melaksanakan suatu tugas atau urusan tertentu, seperti seorang anak pergi untuk menimba ilmu yang jauh dari kampung halaman, maka kesedihan akan terasa berbeda. Terlebih jika kita berpamitan dengan orang yang akan pergi haji, rasa senang, sedih, haru, bangga, khawatir, bahkan takut tidak bisa bertemu selepas pelaksanaan haji selesai, akan bercampur jadi satu. Setidaknya pengalaman ini yang pernah saya rasakan ketika mengiringi kepergian abah menuju ke makkah. Namun alhamdulillah abah pulang dengan sehat dan selamat, serta dalam keadaan iman yang bertambah, insyaAllah.

Namun, lain halnya dengan mbah putri (ibu dari abah). Pada sekitar tahun 76, mbah putri melaksanakan haji untuk pertama kalinya, seorang diri tanpa didampingi oleh mbah kung. Karena mbah kung telah terlebih dahulu berangkat haji sebagai jama’ah haji yang ditunjuk khusus oleh menteri agama (kyai masykur) untuk memimpin jama’ah haji kapal laut “Belle Abeto” kala itu. Akhirnya mbah putri berangkat didampingi oleh seorang teman.

pak malik, mbah kung, mbah putri, bude ma'muriyah

Tampak pada foto kenangan di atas, foto itu diambil waktu hari pemberangkatan haji, mbah putri berpamitan dengan mbah kung, anak-anak beliau dan juga masyarakat. Tertangkap rasa haru yang sangat mendalam dirasakan oleh keluarga, terutama mbah kung. Entah rasa haru itu hanyalah perasaan sedih biasa karena akan ditinggal selama beberapa minggu, atau karena hal lain semacam firasat. Dan benar, pamitnya mbah putri tersebut tidak semata-mata pamitan untuk pergi haji, namun pamitan terakhir kalinya untuk pergi meninggalkan keluarga, masyarakat dan dunia untuk menuju ke sisi Allah dengan husnul khathimah.

Teman yang ditunjuk untuk mendampingi mbah putri menceritakan, bahwa mbah putri tutup usia pada hari kedua pelaksanakan ibadah haji. Setelah melaksanakan wukuf di padang arofah dan mabit di muzdalifah, mbah putri bersama para jamaah yang lain meninggalkan muzdalifah menuju mina yang saat itu ditempuh dengan berjalan kaki. Pada waktu tiba di mina, waktu itulah mbah putri menghembuskan nafas untuk terakhir kali dan meninggalkan segala urusan dunianya. Subhanallah, semoga Allah memberi tempat mbah putri di surga sebagaimana yang telah dijanjikan-Nya dalam sabda Nabi. Amin.

jadi judul haji perpisahan tersebut bukan menceritakan tentang haji wada’, akan tetapi cerita yang disampaikan oleh abah 2 hari yang lalu ketika kami membuka album keluarga yang penuh dengan kenangan. Terungkap rasa kangen dan bangga kepada mbah kung dan mbah putri meskipun saya tidak pernah bertemu dengan beliau berdua selama hidup.

Ngawi, 27 november 2009

10 dzulhijah 1423

4 thoughts on “Haji Perpisahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s