Cita2 yang Tertunda

Beberapa waktu yang lalu aku bersama 3 orang teman pergi ke Blitar, menghadiri pernikahan teman, kami memanggilnya mbak zaki. Hari yang penuh momen itu tidak hanya berarti bagi mbak zaki, aku pun ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan. Hal yang membuat menarik dari mbak zaki bukan karena bagaimana dia mengenal dan menjalin hubungan dengan calon pendampingnya, yang menarik adalah bahwa mbak zaki seorang hafidzah. Aku selalu memandang orang yang hafal qur’an adalah orang-orang yang ‘menarik’. Sejak mengenal mbak zaki, aku merasa sangat antusias ketika mbak zaki mulai bercerita tentang mulai kapan dia hafal al-Qur’an, bagaimana cara menghafal al-qur’an, suka duka menghafal al-Qur’an, kehidupan para penghafal al-Qur’an dan sejumlah cerita penuh hikmah di dalam kehidupan penghafal al-Qur’an.

Sebenarnya aku iri melihat para hufadz. Sepertinya mereka adalah orang –orang khusus yang diberi kelebihan sehingga bisa menghafalkan al-Qur’an. Namun teori ini berubah ketika aku berfikir bahwa menghafal al-Qur’an sebenarnya bukanlah pilihan, menurutku menghafal al-Qur’an itu adalah keharusan kita sebagai umat Islam yang mengimani bahwa al-Qur’an adalah kitab suci yang menjadi pedoman hidup.

Sewaktu kecil, beberapa kali diajak orang tua untuk menjenguk kakak2 yang sedang mondok di Pondok al-Qur’an Nurul Huda Singosari. Aku hanya tahu bahwa Nurul Huda adalah pondok yang memfasilitasi santrinya untuk menghafal al-Qur’an. Tapi akak2ku tidak menghafal al-Qur’an (menghafal tapi blm smp khatam). Tapi aku merasa begitu termotivasi bahwa kelak aku akan menjadi hafidzah. Aku berangan2 bahwa jika tidak ada (dari saudara2ku) yang menghafal al-Qur’an, maka aku harus menghafal al-Qur’an. Aku ingin buat orang tuaku bangga (semangatku kala itu).

Tapi herannya, kenapa waktu itu (ketika masih kecil) cita2 itu tidak pernah terungkap?. Atau sebenarnya terungkap, hanya saja orang tua kurang memahami keinginan anaknya. Akhirnya ketika sudah lulus MI, aku merencanakan ingin mondok di malang juga seperti ka2ku dan orang tuaku. Tapi karena pertimbangan jarak, akhirnya aku ditempatkan disalah satu pondok di ponorogo. Aku sangat semangat, meski Ibu sebenarnya tidak menginginkan aku mondok, karena saat itu saudara2ku juga mondok, jadi tidak ada yang menemani orang tua di rumah.

Ketika sudah beberapa waktu berada di pondok, aku baru sadar, ternyata aku sedang mondok di pondok salaf, pondok yang menekankan pengajian kitab kuning, bukan tempatnya santri menghafalkan al-Qur’an. aku tidak lantas pasrah begitu saja. Aku merencanakan program menghafal al-Qur’an sendiri, meski kadang sungkan ketika teman2 mendapati aku sedang menghafal al-Qur’an, aku hanya tidak ingin dianggap berbeda. Dengan jadwal yang padat mulai dari shubuh sampai mau tidur, aku tidak bisa concern terhadap hafalanku, lambat laun akhirnya keadaan mulai mengalahkan niatku juga. Aku pun meninggalkan hafalanku yang belum genap bahkan satu juz (sebanrnya dua juz, yang satu juz amma,,, hehehe….)

Memasuki dunia perkuliahan, niat itu kembali muncul ketika aku tahu bahwa di intra kampus ada lembaga JQH. Namun keaktifanku di JQH terkalahkan dengan aktifitas di organisasi lain yang mewadahi minat dan bakat tentang kaligrafi, akupun memutuskan untuk tetap eksis di dunia kaligrafi. Sehingga aku merencanakan, nanti setelah aku lulus kuliah, aku ingin mondok satu tahun saja, untuk benar2 memulai menghafal al-Qur’an. selanjutnya bisa difikirkan bagaimana enaknya nanti.

Keinginan untuk mondok setelah kuliah aku sampaikan pada abah 2 tahun yang lalu, beliau (seingatku) kurang merespon niatku itu, dengan pertimbangan aku sudah terlalu dewasa (tua kali ya…) untuk mulai menghafal al-Qur’an, jadi lebih baik melanjutkan studi atau yang lain. Pada Kesempatan pulang kampung puasa kemarin, aku kembali ngomong2 tentang niatku itu pada abah, abah bilang “ya tidak apa2 kalo pengen mondok menghafalkan al-Qur’an”. lho… terang saja aku kaget, karena justru yang abah katakan sekarang terbalik dengan apa yang sudah abah sampaikan dua tahun yang lalu. Padahal sekarang aku sudah merubah pandanganku (rencanaku).

Aku kemudian bercerita ke Ibu, mengenang masa lalu tentang cita2ku yang tertunda itu. aku menyampaikan, tidak apa2 lah jika aku tidak bisa (belum) mewujudkan cita2ku menjadi seorang hafidzah. Kelak ketika aku sudah berkeluarga, aku akan membimbing anak2ku (hehe…) dan mengarahkan kepada mereka supaya menjadi hafidz/ah. Aku yakin jika sejak dini kita mengenalkan al-Qur’an kepada anak2, maka tidak mustahil mereka akan menyerap dengan cepat, InsyaAllah… Kemudian, Ibu pun menambah pandangan masa depanku itu dengan berkata “jika kamu tidak bisa menjadi penghafal al-Qur’an, ya nanti semoga mendapat suami yang hafal al-Qur’an dan didik anak2mu untuk menghafal al-Qur’an”. Subhanallah…. Mendengar doa tulus itu hatiku merasa sejuk,,, namun yang tidak terbesit di dalam fikiranku bahwa aku akan mendapat suami yang hafidz, sy fikir peluang itu sangat kecil. Aku hanya bisa berkata “AMIN”.

Allah selalu mendengarkan kepada hambanya yang mau meminta dan berdoa.

Wallahu A’lam…..

Malang

Selasa, 13 Oktober 2009

10 thoughts on “Cita2 yang Tertunda

  1. keep try girl,… nice posting see u again keep smile ok… salam kenal yach kayaknya baru jadi anggota blogger ngawi di kota ngawi yach,… see u

  2. suwun… itu sebenarnya cerita lama,,, hanya sepertinya belum tepat diceritakan jika belum diusahakan pencapaiannya, kalo gak gitu judulnya bukan cita2 yang tertunda, hehe..
    salam kenal juga,,, sy dah gabung di blogger ngawi sejak 2007

  3. assalamualaikum….
    mbak Diyya…

    wah jarang banget ad ukhti yg berpikiran jenius, kyk mbak..
    maaf sbelumnya, alhamdulillah kluargaku byk yg seorang hafidz., dulu cita2ku ya bgitu, tp ku tidak mampu melangkah lebih jauh tuk mjd seorang hafidz. Melihat keinginan mbak seperti itu, smga saja terlaksana jika disertai niat tulus, dan juga restu dr Abah & Umi. Allah SWT slalu memberi yg terbaik bg hambanya.
    semoga aja smw yang diharapkan, keinginan mbak tentang “Cita2 yang Tertunda” terkabul, Allahumma Amin..

    afwan..
    wassalamu’alaikum

  4. wa’alaikumsalam, mas inul…
    jenius??? dilihat dari segi mana sehingga sy mendapat predikat jenius?🙂,
    mabruk lah… punya keluarga hufadz, pasti sehari2 dirumah penuh kedamaian karena selalu dinaungi bacaan al-qur’an, subhanallah…
    syukran atas doanya, semoga kita termasuk orang2 yang bersyukur atas apa yang sudah Allah limpahkan buat kita, amin.
    wassalam…

  5. mas dameydra… sy memang jarang silaturrahmi sm teman sesama blogger ngawi, karena jarak gak memungkinkan. tapi setidaknya sy pernah ikut BPC ngawi waktu ziarah wali blogger dan berkunjung ke TPC surabaya…

  6. ass…
    “jenius” dlm artian memiliki pmikiran, harapan sprti yg trtuang dlm “cita2 yg trtunda” sprti yg Pean utarakan tsb diatas.

    Subhanallah…….. bagiku ap yg Pean cita2kan, harapkn (wlau trtunda, bkn brarti hrs terpendam slamanya) sngguh mulia di akhir jaman sprti skrg ni. bkn ku brmaksud brlebih2an, tp emng inilah knyataannya. Tahammas Ya ukhti.. (^_^)/
    Smga Allah SWT snantiasa memberi petunjuk, hidayah bg qta smw. amin.

    Afwan..
    oia, slm knal, slm ukhuwah dr ku ‘ainul “inul” yakin (tmn FB Pean):)
    wasslm…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s