Cerita MTQ

Secara umum, pelaksanaan MTQ ke 23 tingkat propoinsi jawa timur yang dilaksanakan di kabupaten Jember berjalan dengan lancar dan baik. Namun jika dibandingkan dengan pelaksanaan MTQ sebelumnya, dalam MTQ kali ini terdapat perbedaan sistem maupun pelayanan yang mengarah pada peningkatan namun juga penurunan kualitas.

Seperti halnya MTQ yang telah lalu, kegiatan utamanya bertempat di stadion yang telah dihias dan direnovasi sedemikian rupa sehingga tampak indah dan megah. Sayang karena jadwal lomba hiasan mushaf akan dilaksanakan esok hari saya tidak bisa mengikuti kemeriahan pembukaan MTQ yang dibuka secara langsung oleh Gubernur Jawa Timur, jadi harus stay in hotel to prepare the competition.

Rabu 29 juli 2009, jam 07.00 berangkat ke SECABA tempat di mana lomba kaligrafi dilaksanakan. Saya dengan teman seperjuangan dari kafilah kabupaten Malang sengaja memilih tempat yang berdampingan di posisi paling depan berhadapan dengan dewan hakim. Tidak begitu menegangkan, justru terasa meyakinkan optimisku. Proses mengerjakan karya saya awali dengan berdoa, selanjutnya mengalir begitu saja. Saya hanya berfikir bahwa saya harus memaksimalkan khot yang akan saya tulis, karena nilai tertinggi ada di situ. Saya harus malu jika tidak bisa menampilkan yang terbaik, Setidaknya dihadapan pembina saya, tentu saja menyesuaiakan dengan kemampuanku.

Sebelum dhuhur saya sudah menyelesaikan pewarnaan dasar, habis dhuhur saya mulai menulis, menulis dengan sangat hati2 dan tenang. Alhamdulillah kelar juga, tapi tiba2 dewan hakim mengumumkan waktu tinggal 60 menit lagi, padahal ornamen belum saya isi sama sekali, waktu satu jam tidak akan mungkin cukup untuk menyelesaikan karya ini. Terfikir apa saja yang sudah saya lakukan sehingga waktu berjalan di luar rencan saya. Tak peduli… saya harus fokus mengerjakan karya. Waktu telah habis dan saya mengisi ornamen seadanya. Wallahu a’lam.

Selesai lomba semangatku yang menggebu-gebu selama ini lenyap begitu saja, namun jika saat itu saya harus bersedih, maka perasaan itu tidak begitu menyelimuti, emosiku datar, bingung merealisasikan perasaan yang harus saya ekspresikan. mungkin untuk kegegalan inilah kemarin saya merasa harus bersedih. Temanku memberi semangat bahwa saya bisa masuk setidaknya 6 besar, namun entahlah… yang jelas partner mushaf sesama kafilah lebih meyakinkan untuk memasuki peringkat, setidaknya hal ini mengurangi kekecewaanku. Esoknya semua terjawab, temanku Ahmad Rodhi mendapat posisi 5 besar, sedangkan saya harus berbesar hati karena tidak mendapatkan posisi seperti yang sudah ditargetkan.

Tinggal menunggu hasil dekorasi dan naskah. Untuk dekorasi temanku Ali Murtadho mewakili kabupaten Malang seorang diri tanpa ada pasangan putri, karena dengan berbagai pertimbangan dari kafilah maka beberapa peserta yang diakui potensial justru dimutasi ke daerah lain, kami tidak pernah benar-benar tahu apa alasannya sehingga dibuat keputusan seperti ini. Mas Ali menyelesaikan karya dengan tuntas dan cukup menarik perhatian pengunjung. Tidak sedikit yang merasa yakin bahwa karyanya bisa bersaing di tingkat final. Namun lagi-lagi dia harus berbesar hati karena kenyataan tidak menghendaki demikian.

Hal serupa terjadi juga di cabang naskah. Naskah putra yang diwakili oleh Abdul Muntaqim tidak mendapatkan posisi, sedang naskah putri yang diwakili oleh Lailiatul Mubtadi’ah menempati posisi 9 besar. Sekilas teringat tentang segala proses yang telah kami lakukan selama ini, tapi kami sudah sangat kuat untuk mengendalikan perasaan kecewa berkat gemblengan mental dari pak bambang.

Tugas kami selanjutnya adalah menganalisis karya hasil lomba terutama karya-karya yang berhasil menduduki peringkat 6 besar, kemudian dibandingkan dengan karya-karya lain (yang tidak masuk 6 besar). Mencoba mengukur kemampuan kami dan teman-teman yang lain dengan para juara. Menilai dimana letak kekurangan dan kelebihan yang dimiliki satu sama lain. Berdasarkan apa yang sering menjadi pembicaraan bahwa terdapat beberapa karya yang dirasa ”mungkin” kurang begitu memenuhi standar penilaian lomba, terutama kaidah khot yang memang menjadi center of interest karya yang dilombakan. Namun apapun itu saya pribadi ingin mengembalikan penilaian objektif kepada teman-teman yang mengikuti lomba atau teman-teman yang sekedar mengikuti perjalanan MKQ dan bahkan yang hanya bisa mendengar cerita MTQ.

Kami ingin sedikit mengapresiasikan sebuah evaluasi atau masukan demi kesuksesan MKQ yang lebih baik lagi pada kesempatan selanjutnya.

  1. Hendaknya seluruh karya lomba bisa ditampilkan kepada publik, sebagaimana pelaksanaan MKQ di MTQ tingkat nasional. Selain para peserta akan merasa dihargai karena karyanya bisa ditampilkan, hal ini juga sangat bermanfaat bagi seluruh peserta agar bisa mengukur kemampuan masing-masing, dan mengetahui dimana letak kekurangan dan kelebihan yang mereka miliki.

  2. Transparansi para dewan hakim dalam memberikan penilaian hasil karya peserta, seperti halnya yang telah dilaksanakan di Blitar dua tahun yang lalu (nilai kaidah dan keindahan disosialisasikan secara terperinci).

Selain itu kami tidak ingin isu-isu bahwa dewan hakim menilai hasil lomba khot karena adanya unsur subyektif karena anak binaannya, atau karena permintaan-permintaan tidak halal dari pihak yang ingin menang secara tidak supportif terbukti. Kami yakin para dewan hakim telah mengerahkan segala tenaga dan fikiran demi memunculkan kader generasi khotot dan khototoh yang berkualitas dan siap untuk berkompetisi pada event yang lebih tinggi demi meninggikan kalimat-kalimat Allah dan mengharumkan nama Jawa Timur sebagaimana semestinya. Mengingat amanah dan sumpah yang telah dilaksanakan oleh dewan hakim bukanlah formalitas belaka.

Finally…. Mengutip pesan dari orang-orang yang telah menjadi inspirator dalam hidup saya ini. Jadikan event-event lomba kaligrafi sebagai ajang mengukur kemampuan dan motivasi untuk terus istiqomah berlatih dan mengasah potensi yang ada dalam diri kita. Hal yang harus kita pegang bahwa ”Keberhasilan itu bukanlah tercapainya tujuan tapi lebih pada proses yaitu komitmen dan konsistensi kita menjalaninya”. Mario Teguh (motivator) juga bilang, ”Jika kita harus gagal, maka gagallah dalam hal kebaikan”. Kepada Allah kembali segala urusan.

(kepada keluarga, guru, dan teman-temanku > thank you for your wishes and for remembering me in your prayers, may Allah’s blessing always be with U all. Amin)

3 thoughts on “Cerita MTQ

  1. alhamdulillah ‘ala kulli haal..
    semoga ke depan MTQ bisa diselenggarakan lebih baik lagi… semoga saran, harapan, dan koreksian benar2 menjadikan MTQ sebagai ajang yang benar2 tulus untuk khidmah al-Qur’an. baik tilawah maupun kitabah (khot)…bismillah, tetap semangat!

  2. semoga MTQ ke depan ada regenerasi dewan hakim khot, dan diharapkan para generasi khot yang masih mendalami khot didalam atau di luar tanah air segera menyelesaikan ijazahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s