Bermadzhab

Orang islam di indonesia pada umumnya mengaku mempunyai aliran, sebut saja salah satunya muhammadiyah dan NU. Selain berpedoman kepada al-Qur’an dan as-sunah, mereka juga mempunyai madzhab sebagai rujukan terhadap masalah-masalah yang kurang jelas atau yang tidak dijelaskan dalam kedua seumber tersebut.

Dengan kata lain, mereka adalah orang islam yang bermadzhab. Istilah bermadzhab ini mungkin bisa dikatakan tidak benar. Karena pendapat para ulama madzhab tidak semuanya berkesesuaian dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena itu, kita hendaknya tidak bertaklid (mengikuti suatu madzhab secara membabi buta). Fanatik madzhab semacam ini terjadi dikalangan pengikut madzhab dimanapun berada. Hal ini jelas tidak diperkenankan karena hanya akan menimbulkan perpecan dikalangan umat islam sendiri. Umat muslim tidak jarang melihat sisi islam dari madzhab apa yang ia ikuti. Sehingga ketika seorang atau sekelompk umat muslim yang fanatik terhadap suatu madzhab tertentu melihat atau mengetahui kelompok lain yang berlainan madzhab dengan mereka, maka mereka menganggap yang lain adalah salah dan madzha yang ia ikuti adalah yang paling benar. Bayangkan, untuk urusan seperti ini saja umat muslim sulit menyatukan diri, lalu bagaimana mereka bisa menyatukan dunia?

Bermadhab tidak pernah diperintahkan oleh rasulullah, apalagi yang disertai dengan fanatik.

Bagi orang yang telah mengikuti dan memahami studi syariah, sedikit banyak bisa membedakan mana diantara pendapat para ulama madzhab yang kuat dari pada yang lain yang bisa dijadikan sebagai hujjah. Bisa saja ketika seseorang mengikuti madzhab tertentu, dan untuk hal tertentu pula dia tidak mengikuti seperti yang telah ditetapkan dalam madzhabnya, hal ini dikarenakan ia telah tahu dan yakin, bahwa untuk hal tertentu tersebut yang dianggap paling pas untuk diamalkan adalah pendapat madzhab yang lain. Lalu bagaimana dengan prang awam? Apakah ketika mereka mengakui bahwa mereka telah mengikuti madzha syafi’’i misalnya, sudah mengamalkan hal-hal yang telah ditetapkan dalam madzhab syafi’i tersebut? Bisa saja mereka sebenarnya mereka mengikuti madzhab lain, hanya saja mereka tidak tahu, karena mereka sebanrnya hanya ikut-ikutan. Suatu hari saya diajak berdiskusi dengan ibu saya, beliau bertanya, ”apa prinsip bermadzhab? Dan bagaimana batasan dalam bermadzhab?. Saya terdiam karena ternyata saya belum mampu pertanyaan dari ibu saya itu. Atau mungkin karena saya belum berani sebelum saya mendiskusikan dengan orang yang ahli.

Mungkin pembaca bisa membantu saya untuk menjawab pertanyaan ibu saya. Atau sekedar berdiskusi agar pengetahuan saya semakin luas. Jadi tuliskan saja pendapat anda dalam comment berikut.

Syukran min qablih!

4 thoughts on “Bermadzhab

  1. saya sangat ingin diskusikan ttg ini, tp kalo cuma lewat komen di sini kayaknya kurang pas. so butuh ruang interaktif untuk itu. bisa lewat imel or chat (di YM, cyberMQ ato yang lain). itu kalo saudari belum menemukannya. silakan kasih tahu saya lewat imel saya di atas. terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s