Malang Old Festival 08

Malang Kembali 2008

”Sejuta Tradisi Satu Aksi”

The Old Festival

Sudah tiga tahun terakhir Malang punya ”gawe dege” yaitu acara yang bernamakan ”Malang Kembali” atau juga disebut ”Malang Tempo Doeloe” dan dalam bahasa inggrisnya disebut ”Malang Old Festival”. Acara Malang Kembali pertama kali diselenggarakan pada tahun 2006 yang digerakkan oleh yayasan Inggil dan diprakarsai oleh ketuanya yaitu seorang peneliti dan pelestari sejarah, beliau adalah Dwi Cahyono. Agar sasarannya lebih mengena, maka acara ini diselenggarakan sebagai salah satu dari serangkaian acara ulang tahun Malang.

Acara yang dilaksanakan disepanjang jalan ijen Malang (di sekitar gedung Perpustakaan kota Malang) ini menghadirkan rekonstruksi sejarah pada zaman kerajaan sampai pada kemerdekaan Indonesia. Sungguh ketika kita memasuki pintu utama, kita serasa dibawa ke lorong waktu dan kembali pada masa dahulu. Hal ini didukung dari stand yang menggunakan bahan-bahan seperti bambu dan atapnya dari jerami atau daun pisang kering (disebut orang jawa dengan klaras). Dari berbagai performance yang ditampilkan yaitu pasar rakyat yang menjual makanan, minuman dan jajanan yang ada pada zaman dahulu. Untuk mengingat pada sejarah, di sana juga ditampilkan kesenian yang dijadikan sebagai sarana hiburan pada zaman dahulu. Ada juga kawasan-kawasan kerajaan, yang menampilkan berbagai benda bersejarah mulai dari prasasti, patung-patung sampai mata uang kuno. Ada juga kawasan islami yang menggambarkan kehidupan masyarakat islam pada jaman dahulu. Dan masih banyak kawasan-kawasan sejarah yang lain. Untuk memudahkan masyarakat mengenang potret-potret sejarah yang ada khususnya untuk anak-anak, panitia memasang diorama sejarah, yang mana foto-fotonya merupakan dokumentasi asli dari masanya, khususnya tempat-tempat bersejarah yang ada di kota malang. Seperti foto udara balai kota malang dan foto pasar besar malang yang diambil pada tahun 1939. Hadirnya suasana yang sangat kental sekali dengan keadaan zaman dahulu ini, didukung dengan panitia yang sangat ketat sekali membatasi segala sesuatu yang ditampilkan, yaitu larangan memamerkan, menjual atau berpakaian yang modern. Untuk itu segala sesuatu seperti pakaian, mainan anak-anak, jajanan, cinderamata dan yang lain harus berupa barang-barang kuno dalam arti bukan barang-barang modern, untuk mempermudah mengidentifikasi barang-barang mana yang dikatakan modern atau kuno, panitia telah memberikan gambaran-gambaran dan batasan-batasan yang jelas.

Tak diragukan lagi acara malang kembali yang ditujukan sebagai event pelestarian dan mengenal sejarah ini, selalu ditunggu masyarakat malang setiap tahunnya. Selama 4 hari berturut2, jalan ijen mulai pagi sekitar jam 8 sampai tengah malam tidak pernah sepi dari pengunjung. Apalagi mulai jam 5 sore, jika anda berkunjung, maka anda tidak bisa melihat jalan dan tidak bisa melihat pameran-pameran yang diadakakan dengan leluasa dikarenakan terlalu banyaknya orang yang memadati seluruh kawasan islami, sulit ditemukan ruang kosong sekedar menghirup udara segar. Niatnya lihat kawasan malang kembali, yang terlihat malah lautan manusia.

Malang kembali untuk tahun 2008 ini diselenggarakan pada tanggal 22-25 Mei 2008 tepatnya pada kamis sampai hari minggu. Pelaksanaannya tetap diselenggarakan di jalan Ijen atau disekitar gedung perpustakaan kota Malang. Namun pada tahun ini, kawasannya diperluas dari pada tahun-tahun sebelumnya. Belajar dari evaluasi malang kembali yang telah dilaksanakan 2 tahun sebelumnya, acara malang kembali 2008 ini lebih disempurnakan dan dikembangkan lagi penampilannya, mulai dari penampilan dari masing-masing kawasan yang ada sampai diorama sejarah yang dipasang disepanjang jalan ijen dan background kawasan sejarah.

Malang Kembali ”Kawasan Islam Klasik”

Workshop Kaligrafi

Kebetulan sekali, saya yang sekarang ini sedang menuntut ilmu di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, mempunyai kesempatan untuk menjadi salah satu partisipan mengisi salah satu kawasan di acara Malang Kembali.

Saat itu saya bersama teman-teman saya sesama pengurus el-Kamal (lembaga Kaligrafi Malang) diajak musyarah oleh pembina elKamal yaitu ustad Bambang Priyadi. Ternyata beliau ditawari oleh ketua penyelenggara Malang Kembali untuk mengisi Kawasan Islam Klasik sebagai pengisi workshop kaligrafi. Sebagai lembaga, kami memang belum pernah mengadakan atau mengikuti kegiatan di luar, mengingat kelahiran lembaga kami masih sangat dini. Tapi dengan semangat dan optimisme yang tinggi, dukungan yang luar biasa dari pembina kami, dan untuk mengenalkan kaligrafi kepada masyarakat luas, serta amat langkanya kesempatan untuk bisa ikut berpartisipasi dalam acara malang kembali ini, akhirnya kami menyatakan sanggup mengisi workshop kaligrafi. Dalam pelaksanaan workshop kaligrafi ini, kami bekerjasama dengan para pejuang khot (hehe… keren banget kan?!) diantaranya dari teman-teman HMJ Bahasa Arab Universitas Negeri Malang (UM), teman-teman UKM Seni Religius UIN Malang, teman-teman kaligrafi dari Batu, Singosari, dan juga para senior khot yang tidak diragukan lagi eksistensinya dalam dunia khot.

Selama 4 hari berturut-turut dari jam 8 pagi sampai jam 11 malam, kami standby di panggung kawasan Islami. Khusus pada jam 08 pagi sampai jam 05 sore kami menampilkan pembuatan karya mushaf klasik, yang langsung digarap oleh ustadz bambang priyadi beserta kedua putranya, yaitu mas aqib dan mas afif (benar-benar keluarga yang artistik). Selain pembautan karya mushaf kalsik, di sini kami juga menampilkan pembuatan karya seni pahat kaligrafi yang langsung ditangani oleh ahli pahat malang yaitu pak qadir. Sebagai latar belakang pendukung suasana islam klasik, kami menampilkan karya-karya kaligrafi klasik dan juga karya pahat.

Kami juga memfasilitasi para pengunjung kawasan islam klasik untuk langsung belajar dan mencoba menulis khot arab sesuai dengan kaedah khot yang berlaku dengan menggunakan pena yang didesain khusus dan tinta cina. Pengunjung juga bisa memiliki pena khot dengan membeli sejenis bambu tertentu yang teksturnya sangat pas digunakan untuk menulis khot yang disebut kayu andam. Banyak pengunjung yang ingin namanya diabadikan dalam sebuah tulisan kaligrafi arab yang indah dan dilatar belakangi oleh lukisan, bisa memesan di stand kami dengan harga yang relatif murah.

Berbagai kesan yang kami dapatkan di sini. Alhamdulillah, banyak sekali yang antusias ingin mengetahui dan mencoba langsung cara menulis khot. Pagi hari pasti benyak anak-anak sekolah dasar yang dibimbing guru mereka untuk mencoba dan berusaha memberikan kesan ketertarikan terhadap seni menulis arab ini. Pada hari ketiga, kami kedatangan murid-murid sekolah luar biasa, luar biasa dan tidak menyangka ketika pertama kali melihat mereka berkumpul ditengah panggung dan tanpa malu menulis dengan andam yang tersedia. Lama-lama kami memperhatikan percakapan mereka yang ternyata tidak selayaknya anak normal, kemudian guru yang mendampingi mereka menjelaskan pada kami bahwa mereka dari SLB yang sekolahnya tidak jauh dari lokasi penyelenggaraan malang kembali.

Pernah juga ada seorang wanita korea mampir ke stand kami. Kebetulan memang pembina kami sedikit kenal dengan dia. Kami yakin, memgang kayu dan menulis dengan menggunakan tinta bukan hal yang asing dia lakukan, maka kami berani mengajak Kim Sung Juk namanya, untuk mencoba menggoreskan tulisan arab. Kami dibuat takjub dibuatnya, sekali saja p. Bambang memberi contoh cara menuliskan khot. Pada umumnya orang yang belum pernah menulis khot sama sekali, ketika dia mencoba dan hasilnya masih ”jelek” itu wajar, namun ketika Kim Sugn Juk mencobanya, goresan dan kehalusan tulisan yang ia buat seperti orang yang pernah belajar khot sebelumnya. Tak heran, dia berkebangsaan korea, dan dia tidak jarang menggoreskan kayu dengan tinta cina di atas kertas, sekalipun yang ditulis bukan tulisan arab. Sebelum dia meninggalkan stand kami, dia menuliskan kesan pesan buat teman-teman el Kamal dengan tulisan korea. Yang artinya ”Semoga Bahagia”.

Kawasan Islam Klasik

Musik Islami

Selain workshop kaligrafi, di kawasan islami pada jam 3 sampai jam 5, ada penampilan pencak silat yang juga mengiringi workshop kaligrafi. Pencak silat ini menggambarkan seni bela diri yang pada zaman sebelum kemerdekaan dilatih untuk membela diri dari kejahatan para penjajah. Selain pencak silat, jam 7 malaam juga penampilan musik Islami yang dibawakan oleh teman-teman UKM Seni Religius UIN Malang. Kehadiran mereka bisa memeriahkan acara malang kembali bukan tanpa sengaja. Untuk bisa tampil dalam acara malang kembali ini, ada prosedur yang harus dipenuhi, namun karena kebetulan saya sendiri termasuk anggota UKM Seni Religius, maka ketika saya bersama teman-teman datang ke sekretariat untuk menyatakan kesanggupan kami mengisi workshop kaigrafi. Pak bambang mengenalkan saya pada ketua penyelenggara sebagai personil musik islami juga, praktis saat itu juga saya harus mempresentasikan profil musik yang dimililki UKM Seni Religius. Sebenarnya yang akan ditampilkan dalam acara MK ini adalah musik gambus, namun ketika saya mengenalkan bahwa SR juga punya 2 jenis musik islam lain selain gambus yaitu shalawat dan kaligrafi, pak dwi cahyono pun tidak keberatan dan mempersilahkan, jika SR benar-benar sanggup mengisi musik Islami juga menampilkan 2 aliran musik selain gambus. Dengan catatan, tidak boleh menggunakan alat musik modern, kecuali beberapa alat musik yang tidak bisa ditinggalkan seperti keyboard, gitar dan bass.

Tak heran lagi, berita ini menjadi sureprice buat temen2 SR mendapatkan kesempatan langka tampil ditengah acara MK. Sesuai dengan prediksi, di hari pertama pengunjung ramai memadati ruang depan stand, bahkan ada yang mengikuti penampilan kami dari awal sampai akhir, antusias para penonton pun sangat meriah saat mc mempersilahkan ikut tari gambus di depan pentas. Meski kami tidak mendapatkan fee atas penampilan kami selama empat hari berturut2, namun kebanggaan bagi kami lebih mahal harganya debandingkan yang lain. Apalagi pada hari terkhir, penampilan gambus kami dikolaborasikan dengan pemain gambus senior dari malang, benar-benar luar biasa penampilan gambus saat itu. Penonton bertambah dua kali lipat, dan khusus di bagian kiri panggung, orang2 jamaah sengaja berkumpul di depan agar mereka mudah untuk menari gambus secara bergantian satu sama lain. Yang membuat saya terharu. Saat itu saya sempat melihat kedatangan ustadz Abdurahman Helmi, beliau adalah trainer motivasi yang sering menjadi narasumber ketika SR mengadakan diklat. Ketika beliau datang dan tahu bahwa ternyata sudah tidak ada ruang kosong, beliau langsung berjalan diamping panggung. Kebetulan disamping panggung kami ada rumah yang temboknya mepet dengan pembatas panggung. Apa yang dilakukan beliau? Beliau menaiki tembok rumah dan mendapati sedikit tempat untuk dibuat duduk di atasnya, dengan cekatan beliau langsnug mapan duduk bersilal sambil merasa lega bahwa belliau akhirnya juga bisa melihat penampilan kami meski harus duduk di pagar rumah orang. Subhanallah…

Penonton malam itu benar-benar terhipnotis oleh penampilan kami, meski tanpa sengaja personil musik maupun tari gambus diposisikan oleh ahlinya. Namun sayangnya, fasilitas untuk merekam audio yang sudah kami siapkan saat itu, ternyata ketika acara selesai tidak bisa disimpan. Setelah diperiksa ternyata memang instalan program recordernya ada yang kurang, sungguh seperti kehilangan harta yang sangat berharga.

5 thoughts on “Malang Old Festival 08

  1. mbak. bisa minta informasi tentang pak bambang priyadi ini?ada no hp atau telp yg bisa dihubungi?
    jika punya tolong kirim ke email saya ya
    (benugila2007@yahoo.com)
    ini untuk bahan penulisan saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s