<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>&#124; diyya &#124;</title>
	<atom:link href="http://diyya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://diyya.wordpress.com</link>
	<description>Tak akan berhenti mencari jati diri</description>
	<lastBuildDate>Wed, 04 Nov 2009 00:09:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='diyya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/9d1a841bfec999a052be19552f3e990a?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>&#124; diyya &#124;</title>
		<link>http://diyya.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title></title>
		<link>http://diyya.wordpress.com/2009/11/04/384/</link>
		<comments>http://diyya.wordpress.com/2009/11/04/384/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 00:09:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyya.wordpress.com/?p=384</guid>
		<description><![CDATA[
&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
&#160;
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=384&subd=diyya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-full wp-image-383" title="jilbab" src="http://diyya.files.wordpress.com/2009/11/jilbab-kartun-18.jpg?w=200&#038;h=273" alt="jilbab" width="200" height="273" /></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyya.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyya.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyya.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyya.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyya.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyya.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyya.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyya.wordpress.com/384/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyya.wordpress.com/384/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyya.wordpress.com/384/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=384&subd=diyya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyya.wordpress.com/2009/11/04/384/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a12056b728f0bfe5d0d1e08022c3b4fe?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diyya.files.wordpress.com/2009/11/jilbab-kartun-18.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jilbab</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tammim Bil Khair</title>
		<link>http://diyya.wordpress.com/2009/10/21/tammim-bil-khair/</link>
		<comments>http://diyya.wordpress.com/2009/10/21/tammim-bil-khair/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 01:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyya.wordpress.com/?p=372</guid>
		<description><![CDATA[
Waktu itu persiapan pembuatan makalah dan presentasi mata kuliah studi pemikiran orientalis terhadap hukum islam, aku kebagian materi orientalis dan hukum keluarga islam, yaitu mencari pemikiran2 para orientalis yang mengkaji dan menulis pemikiran mereka terhadap sistem hukum keluarga islam,,, tokoh ini adalah Joseph Scacth, buku karya JS  tentang hukum keluarga islam merupakan satu2nya referensi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=372&subd=diyya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-indent:1.27cm;line-height:150%;" align="justify">Waktu itu persiapan pembuatan makalah dan presentasi mata kuliah studi pemikiran orientalis terhadap hukum islam, aku kebagian materi orientalis dan hukum keluarga islam, yaitu mencari pemikiran2 para orientalis yang mengkaji dan menulis pemikiran mereka terhadap sistem hukum keluarga islam,,, tokoh ini adalah Joseph Scacth, buku karya JS  tentang hukum keluarga islam merupakan satu2nya referensi rekomendasi yang sy pegang, <span id="more-372"></span>dan ini tidak menjadi masalah mengingat masih sangat minim sekali tokoh orientalis yang membicarakan hukum islam dan sedikit sekali literatur yang mengangkat topik ini, referensi JS yang sy pegang adalah edisi yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. Namanya juga terjemahan, dan mungkin bahasa yang digunakan terbilang berat, sy menemukan kesulitan dalam mengkaji dan memahami apa yang hendak disampaikan JS dalam bukunya. susunan redaksinya menimbulkan banyak persepsi untuk dijadikan sebagai sebuah pemahaman. Untuk belajar dan memahami saja sy mengalami kesulitan semacam ini, bagaimana sy bisa mempresentasikan apa yang sy sendiri belum bisa pahami? bagaimana sy menjawab pertanyaan yang diajukan temen2 nanti? Ya Allah&#8230;. Kekhawatiran2 ini semakin membuat sy gelisah apalagi semakin mendekati hari sy harus presentasi, apa yang akan sy lakukan nanti??? sy tidak mungkin hanya membaca makalah dan diam seribu bahasa dengan alasan tidak memahami materi yang saya smapaikan.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;line-height:150%;" align="justify">Hari H. Sy harus presentasi jam setengah satu dengan seorang kawan dari kelas lain. setelah memastikan makalah sudah digandakan, sy merencanakan untuk mendiskusikan materi yang akan sy presentasikan. Dalam hal ini sy hanya percaya pada teman dari madura, ruslan namanya, sy mengakui dalam hal pemikiran dia bisa diandalkan untuk diajak diskusi. Sy hanya punya waktu 3 jam untuk mendiskusikan sedikit materi dengan kawan sy itu. Membaca paragraf awal berulang2 ternyata dia juga merasakan kesulitan yang sama, tapi setidaknya sy punya teman untuk mengutarakan pendapat yang paling mendekati maksud yang tertuang dalam makalah tersebut,,, waktu habis dan tidak semua materi terdiskusikan&#8230; Bismillah&#8230; sy kembali ke kos, sholat dhuhur dan siap bertempur di meja presenter di kelas. Hal yang sedikit mengurangi rasa beban, bahwa dalam beberapa minggu terakhir, dosen menghendaki presentasi dilakukan dua materi sekaligus, dan biasanya presentasi semacam ini tidak begitu efektif untuk bisa concern terhadap apa yang disampaikan oleh presenter kepada mahasiswa, sy menjadikan situasi ini sebagai alasan mengapa sy tidak harus terlalu nervouse terhadap presentasi sy nanti. Beberapa menit sebelum masuk ke kelas, sy sempat mendiskusikan lagi apa yang sempat terfikir selama diperjalanan menuju kampus, sy ungkapkan apa yang menjadi pendapat sy mengenai suatu teori yang disampaikan JS dalam tulisannya yang tadi belum sempat sreg terhadap persepsi yang ditermukan, teman sy agaknya setuju dengan pendapat sy.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;line-height:150%;" align="justify">Tak lama, akhirnya kelas masuk, dosen menanyakan materi yang akan dibahas hari ini, beliau mengatakan bahwa materi tentang pemikiran orientalis terhadap hukum keluarga islam sangatlah penting dan materinya banyak bila dibandingkan dengan materi lain, untuk itu dosen menganjurkan agar presentasi hari ini cukup disampaikan satu materi saja (kelompok sy sj). Mendengar itu hati sy shock&#8230; ahhhhh&#8230;. ya Allah,,, berat sekali ujian yang harus hamba lalui hari ini. tidak ada perdebatan karena mau tidak mau sy harus presentasi.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;line-height:150%;" align="justify">Presentasi dimulai dengan pendahuluan apologis tentang masalah yang sy hadapi dengan harapan agar teman2 memahami kesulitan kami dan mau memberi banyak kontribusi berupa masukan2 yang belum terfikirkan oleh sy dan partner sy. presentasi selesai, 3 pertanyaan audience diajukan, 2 telah terjawab dan 1 pertanyaan terpaksa diakhiri karena waktu perkualiahan hampir habis. Karena dosen sy yang satu ini juga punya pertanyaan tersendiri sebagai bentuk tambahan nilai dan melihat kemampuan mahasiswa apakah makalah ini dibuat sendiri dan dipelajari. nah&#8230; pertanyaan audience yang belum sempat terjawab tadi dijadikan sebagai pertanyaan quiz untuk kami, dan kebetulan jatuh pada saya. Pertanyaan itu adalah seputar poligami di kalangan kaum sunni. yang mana materi ini sudah smpt sy diskusikan dengan teman sy itu termask sebelum masuk ke kelas tadi. dengan lumayan lancar (meski tahu belum tentu benar) sy menjawab pertanyaan dosen dengan percaya diri. dan ternyata&#8230; mumtaz&#8230; kebetulan jawabannya pas sekali&#8230; seketika itu juga perasaan sy plong dan luar biasa lega, mengingat kesulitan yang selama ini sy rasakan,,,</p>
<p style="text-indent:1.27cm;line-height:150%;" align="justify"><em>rabbi yassir wa la tu&#8217;assir, rabbi tammim bilkhair&#8230; alhamdulillah&#8230;.</em></p>
<p style="line-height:150%;" align="justify"><em>Malang, 2008</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyya.wordpress.com/372/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyya.wordpress.com/372/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyya.wordpress.com/372/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyya.wordpress.com/372/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyya.wordpress.com/372/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyya.wordpress.com/372/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyya.wordpress.com/372/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyya.wordpress.com/372/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyya.wordpress.com/372/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyya.wordpress.com/372/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=372&subd=diyya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyya.wordpress.com/2009/10/21/tammim-bil-khair/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a12056b728f0bfe5d0d1e08022c3b4fe?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cita2 yang Tertunda</title>
		<link>http://diyya.wordpress.com/2009/10/15/cita2-yang-tertunda/</link>
		<comments>http://diyya.wordpress.com/2009/10/15/cita2-yang-tertunda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 23:33:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyya.wordpress.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[
Beberapa waktu yang lalu aku bersama 3 orang teman pergi ke Blitar, menghadiri pernikahan teman, kami memanggilnya mbak zaki. Hari yang penuh momen itu tidak hanya berarti bagi mbak zaki, aku pun ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan. Hal yang membuat menarik dari mbak zaki bukan karena bagaimana dia mengenal dan menjalin hubungan dengan calon [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=373&subd=diyya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Beberapa waktu yang lalu aku bersama 3 orang teman pergi ke Blitar, menghadiri pernikahan teman, kami memanggilnya mbak zaki. Hari yang penuh momen itu tidak hanya berarti bagi mbak zaki, aku pun ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan. <span id="more-373"></span>Hal yang membuat menarik dari mbak zaki bukan karena bagaimana dia mengenal dan menjalin hubungan dengan calon pendampingnya, yang menarik adalah bahwa mbak zaki seorang hafidzah. Aku selalu memandang orang yang hafal qur’an adalah orang-orang yang ‘menarik’. Sejak mengenal mbak zaki, aku merasa sangat antusias ketika mbak zaki mulai bercerita tentang mulai kapan dia hafal al-Qur’an, bagaimana cara menghafal al-qur’an, suka duka menghafal al-Qur’an, kehidupan para penghafal al-Qur’an dan sejumlah cerita penuh hikmah di dalam kehidupan penghafal al-Qur’an.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Sebenarnya aku iri melihat para hufadz. Sepertinya mereka adalah orang –orang khusus yang diberi kelebihan sehingga bisa menghafalkan al-Qur’an. Namun teori ini berubah ketika aku berfikir bahwa menghafal al-Qur’an sebenarnya bukanlah pilihan, menurutku menghafal al-Qur’an itu adalah keharusan kita sebagai umat Islam yang mengimani bahwa al-Qur’an adalah kitab suci yang menjadi pedoman hidup.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Sewaktu kecil, beberapa kali diajak orang tua untuk menjenguk kakak2 yang sedang mondok di Pondok al-Qur’an Nurul Huda Singosari. Aku hanya tahu bahwa Nurul Huda adalah pondok yang memfasilitasi santrinya untuk menghafal al-Qur’an. Tapi akak2ku tidak menghafal al-Qur’an (menghafal tapi blm smp khatam). Tapi aku merasa begitu termotivasi bahwa kelak aku akan menjadi hafidzah. Aku berangan2 bahwa jika tidak ada (dari saudara2ku) yang menghafal al-Qur’an, maka aku harus menghafal al-Qur’an. Aku ingin buat orang tuaku bangga (semangatku kala itu).</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Tapi herannya, kenapa waktu itu (ketika masih kecil) cita2 itu tidak pernah terungkap?. Atau sebenarnya terungkap, hanya saja orang tua kurang memahami keinginan anaknya. Akhirnya ketika sudah lulus MI, aku merencanakan ingin mondok di malang juga seperti ka2ku dan orang tuaku. Tapi karena pertimbangan jarak, akhirnya aku ditempatkan disalah satu pondok di ponorogo. Aku sangat semangat, meski Ibu sebenarnya tidak menginginkan aku mondok, karena saat itu saudara2ku juga mondok, jadi tidak ada yang menemani orang tua di rumah.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Ketika sudah beberapa waktu berada di pondok, aku baru sadar, ternyata aku sedang mondok di pondok salaf, pondok yang menekankan pengajian kitab kuning, bukan tempatnya santri menghafalkan al-Qur’an. aku tidak lantas pasrah begitu saja. Aku merencanakan program menghafal al-Qur’an sendiri, meski kadang sungkan ketika teman2 mendapati aku sedang menghafal al-Qur’an, aku hanya tidak ingin dianggap berbeda. Dengan jadwal yang padat mulai dari shubuh sampai mau tidur, aku tidak bisa concern terhadap hafalanku, lambat laun akhirnya keadaan mulai mengalahkan niatku juga. Aku pun meninggalkan hafalanku yang belum genap bahkan satu juz (sebanrnya dua juz, yang satu juz amma,,, hehehe….)</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Memasuki dunia perkuliahan, niat itu kembali muncul ketika aku tahu bahwa di intra kampus ada lembaga JQH. Namun keaktifanku di JQH terkalahkan dengan aktifitas di organisasi lain yang mewadahi minat dan bakat tentang kaligrafi, akupun memutuskan untuk tetap eksis di dunia kaligrafi. Sehingga aku merencanakan, nanti setelah aku lulus kuliah, aku ingin mondok satu tahun saja, untuk benar2 memulai menghafal al-Qur’an. selanjutnya bisa difikirkan bagaimana enaknya nanti.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Keinginan untuk mondok setelah kuliah aku sampaikan pada abah 2 tahun yang lalu, beliau (seingatku) kurang merespon niatku itu, dengan pertimbangan aku sudah terlalu dewasa (tua kali ya…) untuk mulai menghafal al-Qur’an, jadi lebih baik melanjutkan studi atau yang lain. Pada Kesempatan pulang kampung puasa kemarin, aku kembali ngomong2 tentang niatku itu pada abah, abah bilang &#8220;ya tidak apa2 kalo pengen mondok menghafalkan al-Qur’an”. lho… terang saja aku kaget, karena justru yang abah katakan sekarang terbalik dengan apa yang sudah abah sampaikan dua tahun yang lalu. Padahal sekarang aku sudah merubah pandanganku (rencanaku).</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify">Aku kemudian bercerita ke Ibu, mengenang masa lalu tentang cita2ku yang tertunda itu. aku menyampaikan, tidak apa2 lah jika aku tidak bisa (belum) mewujudkan cita2ku menjadi seorang hafidzah. Kelak ketika aku sudah berkeluarga, aku akan membimbing anak2ku (hehe…) dan mengarahkan kepada mereka supaya menjadi hafidz/ah. Aku yakin jika sejak dini kita mengenalkan al-Qur’an kepada anak2, maka tidak mustahil mereka akan menyerap dengan cepat, InsyaAllah… Kemudian, Ibu pun menambah pandangan masa depanku itu dengan berkata “jika kamu tidak bisa menjadi penghafal al-Qur’an, ya nanti semoga mendapat suami yang hafal al-Qur’an dan didik anak2mu untuk menghafal al-Qur’an”. Subhanallah…. Mendengar doa tulus itu hatiku merasa sejuk,,, namun yang tidak terbesit di dalam fikiranku bahwa aku akan mendapat suami yang hafidz, sy fikir peluang itu sangat kecil. Aku hanya bisa berkata “AMIN”.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><em>Allah selalu mendengarkan kepada hambanya yang mau meminta dan berdoa.</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center"><em>Wallahu A’lam…..</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><em>Malang</em></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><em>Selasa, 13 Oktober 2009</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyya.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyya.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyya.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyya.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyya.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyya.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyya.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyya.wordpress.com/373/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyya.wordpress.com/373/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyya.wordpress.com/373/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=373&subd=diyya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyya.wordpress.com/2009/10/15/cita2-yang-tertunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a12056b728f0bfe5d0d1e08022c3b4fe?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Eid Mubarak!</title>
		<link>http://diyya.wordpress.com/2009/09/18/eid-mubarak/</link>
		<comments>http://diyya.wordpress.com/2009/09/18/eid-mubarak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 14:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyya.wordpress.com/2009/09/18/eid-mubarak/</guid>
		<description><![CDATA[Send this eCard 
!
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=366&subd=diyya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href='http://www.123greetings.com/events/eid_ul_fitr/family/family6.html'><img src='http://i.123g.us/c/edec_eidulfitr_family/th/105192_th.gif' border='0'></a><a href='http://www.123greetings.com/events/eid_ul_fitr/family/family6.html'>Send this eCard </p>
<p>!</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyya.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyya.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyya.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyya.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyya.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyya.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyya.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyya.wordpress.com/366/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyya.wordpress.com/366/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyya.wordpress.com/366/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=366&subd=diyya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyya.wordpress.com/2009/09/18/eid-mubarak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a12056b728f0bfe5d0d1e08022c3b4fe?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i.123g.us/c/edec_eidulfitr_family/th/105192_th.gif" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Laporan PKL</title>
		<link>http://diyya.wordpress.com/2009/08/25/laporan-pkl/</link>
		<comments>http://diyya.wordpress.com/2009/08/25/laporan-pkl/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 23:10:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyya.wordpress.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[
Praktek Kerja Lapangan Integratif (PKLI) Fakultas Syari’ah Jurusan Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang angkatan 2006 dilaksanakan mulai tanggal 13 Juli sd 13 Agustus 2009. Begitu juga dengan fakultas lain, hanya waktu pelaksanaannya berbeda dan mayoritas lebih lama dibanding dengan fakultas syari’ah. Di fak. Syari’ah khususnya jurusan AS, mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan mengikuti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=356&subd=diyya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">Praktek Kerja Lapangan Integratif (PKLI) Fakultas Syari’ah Jurusan Al-Ahwal Al-Syakhsiyyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang angkatan 2006 dilaksanakan mulai tanggal 13 Juli sd 13 Agustus 2009. <span id="more-356"></span><span lang="sv-SE">Begitu juga dengan fakultas lain, hanya waktu pelaksanaannya berbeda dan mayoritas lebih lama dibanding dengan fakultas syari’ah. Di fak. Syari’ah khususnya jurusan AS, mahasiswa yang telah memenuhi persyaratan mengikuti PKLI akan disebar di 6 Pengadilan Agama di Jawa Timur, yaitu Kota Malang, Kabupaten Malang, Pasuruan, Bangil, Kediri dan Blitar. Masing-masing kelompok terdiri dari kurang lebih 15 orang dari hasil pembagian jumlah mahasiswa AS semester 6 yaitu sekitar 100 mahasiswa. Jumlah peserta dalam satu kelompok ini terbilang banyak dibandingkan dengan fakultas lain yang satu kelompok PKL-nya hanya diikuti kurang lebih 5 orang. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Mengingat  keikutsertaan saya pada MTQ jatim di Jember selama satu minggu akan memotong kegiatan PKLI, maka saya sengaja meminta rekomendasi khusus kepada fakultas agar ditempatkan di Malang, agar latihan intensif bisa tetap saya ikuti sampai nanti pemberangkatan MTQ. Alhamdulillah rekomendasi di ACC, dan saya ditempatkan di kota Malang yang kebetulan dekat dengan tempat di mana saya latihan kaligrafi bersama teman-teman el-Kamal.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE"> PKLI tahun ini agaknya diberlakukan sistem yang berbeda dari tahun lalu, jika tahun lalu peserta PKLI hanya dibebani tugas di PA dan pengabdian masyarakat saja, maka kali ini ditambah dengan pengabdian di Madrasah Aliyah (MA). Jadwal kegiatanpun tidak dikoordinir terpusat oleh fakultas. Para peserta bersama Dosen Pendamping Lapangan (DPL) diberi kepercayaan penuh untuk merancang sendiri kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan ditempat PKLI dengan bekal materi pembekalan PKL yang dilaksanakan 4 hari sebelum pemberangkatan PKL. Seharusnya sistem baru ini meringankan bagi kami, namun kenyataanya terasa memberatkan bagi kami karena harus meraba-raba sendiri, ditambah lagi DPL kami kebetulan merupakan dosen baru untuk mendampingi peserta PKL. Lengkap sudah&#8230;..</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE"> PA kota Malang tempat kami PKL terletak di dekat terminal arjosari, di depan kantor DEPAG kota malang, tempat yang mudah dijangkau. Prediksi kegiatan-kegiatan yang akan kami lakukan seperti kami akan ikut membantu proses pendaftaran perkara, menyusun berkas-berkas, atau mengetik administrasi apa saja yang diperlukan, ternyata tidak terealisasi sama sekali. Kenyataanya kami mendapatkan materi dan teori layaknya kami kuliah di kampus. Hanya saja dosennya langsung dari para praktisi hukum yang </span><span lang="sv-SE"><em>expert </em></span><span lang="sv-SE">dalam bidang hukum, dan kami akan mendapatkan jawaban yang riil dari apa yang kami pertanyakan tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan pengadilan agama baik materiil maupun formil. Di PA kami juga bisa melihat langsung suasana pengadilan yang dipenuhi dengan orang2 yang terlibat masalah terutama perkara perceraian. Jika kita melihat pasangan yang datang ke KUA menunjukkan sikap dan ekspresi bahagia, di PA kita akan mendapati pasangan2 yang saling diam, nyaris tanpa ekspresi layaknya orang yang tidak saling kenal. Sesekali kami juga menyamar sebagai orang biasa (bukan mahasiswa) agar bisa berkomunikasi langsung dengan pihak berperkara. Ada yang dengan terbuka menceritakan apa yang sedang mereka alami, namun tidak sedikit yang cuek dan menutup diri. Sangat wajar&#8230;.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="fi-FI"> Hal yang tidak ingin kami lewatkan adalah mengikuti jalannya sidang dan proses mediasi. Dalam mengikuti jalannya sidang, kami menganalisisnya lebih kepada apakah jalannya persidangan sudah sesuai dengan apa yang telah diatur dalam hukum acara, dan bagaimana hakim menghadapi orang-orang yang berperkara dengan bermacam-macam cerita yang berbeda. Kami juga diberi kesempatan untuk melakukan sidang semu sebagai bentuk praktek kemahiran hukum, hm&#8230; asyik juga&#8230;<br />
</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Hal yang paling menarik bagi saya adalah mengikuti mediasi. </span><span lang="fi-FI">Mediasi merupakan proses perdamaian yang harus diikuti oleh orang2 yang berperkara dalam kasus apapun dan dilakukan di luar persidangan. Mediasi baru dilegalkan dengan PERMA No. 1 tahun 2008. </span><span lang="sv-SE">Dengan adanya PERMA ini tertanya sangat berpengaruh pada intensitas terjadinya sengketa terutama pada kasus perceraian. Tidak jarang para hakim mediator berhasil mendamaikan pasangan yang akan bercerai, hal ini juga tidak lepas dari cara mediator dalam mendamaikan para pihak. </span><span lang="fi-FI">Mediator harus mempunyai kemampuan berkomunikasi dan mempengaruhi seseorang untuk intropeksi terhadap diri mereka masing-masing. Tentu saja dibekali dengan kecerdasan emosional dan spiritual mediator itu sendiri. Menjadi mediator adalah tugas yang sangat mulia, karena mereka tidak hanya bertanggung jawab mendamaikan para pihak yang sedang bersengketa, melainkan juga berdakwah. </span><span lang="sv-SE">Sering saya mendapati para pihak menangis ketika sedang mediasi, jangankan mereka yang sedang berperkara, bahkan kami yang mengikuti mediasi di belakang para pihak tak jarang ikut menangis merenungi apa saja telah kami lakukan selama hidup di dunia ini.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Untuk MA kami sengaja memilih MA Al-Amin, selain madrasah ini dekat di tempat kami bermukim, madrasah ini mempunyai kondisi yang cukup unik untuk kami jadikan sebagai tempat PKL. Pasalnya dari 3 kelas yang terdiri dari kelas 1 sampai kelas 3, MA Al-Amin hanya memiliki jumlah murid 35 anak. Bisa dihitung satu kelas hanya diikuti sekitar 12 murid. Jumlah yang sangat sedikit jika dibandingkan dengan sekolah lain pada umumnya. Memang kurang pas jika mahasiswa fakultas syari’ah melaksanakan PKL di madrasah atau sekolah, karena basic kami bukan pengajar, sedangkan yang dituntut dari pihak sekolah pasti tidak jauh dari bidang ajar mengajar. Namun di awal perkenalan kami sudah menjelaskan bahwa kami akan memberikan konstribusi dalam bentuk penyuluhan atau seminar dan membantu kegiatan2 yang akan dilaksanakan sekolah. Alhamdulillah dari pihak sekolah menyadari itu, dan hal ini akan sangat membantu kelancaran kami dalam membuat laporan akhir</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Sedangkan untuk pengabdian masyarakat, kami selalu berkoordinasi dengan kelurahan Purwodadi tentang kegiatan-kegiatan yang bisa kami dilaksanakan di daerah porwodadi. Kegiatan rutinan yang kami laksanakan yaitu dibaan putri setiap malam minggu, tahlilan setiap malam selasa dan mengajar TPQ. </span><span lang="fi-FI">Kegiatan yang lain yaitu penyuluhan tentang pembinaan masyarakat tentang keluarga sakinah untuk pengajian bapak-bapak, dan sosialisasi tentang UU yang mengatur tentang KDRT dan perlindungan anak kepada ibu-ibu pengajian.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="fi-FI"> Tidak terasa sebulan ternyata sangat singkat sekali untuk diisi dengan kegiatan yang bermanfaat terutama yang bersifat sosial. Seharusnya kami diberikan waktu yang lebih panjang agar bisa memberikan konstribusi yang banyak kepada masyarakat. Tapi jika usulan itu benar-benar diterima, maka saya harus siap didemo oleh teman-teman satu fakultas,,, hehehehe&#8230;..</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Terimakasih kepada segenap keluarga PA kota malang yang dengan ikhlas dan sabar membimbing kami. Kami bersyukur tidak mendapatkan bukti bahwa PA Kota Malang tidak cukup ”enak” untuk dijadikan tempat PKL. Kenyataan yang kami rasakan justru sebaliknya, bahkan kami telah menemukan banyak judul skrepsi (ralat: skripsi) berkat bimbingan dari pak Munasik (hakim PA kota Malang). ”kami kagum dengan bapak, terimakasih atas inspirasi masa depan, karir dan jodoh yang banyak kami dapatkan dari bapak”. ^_^</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE"> Tidak lupa terimasihku kepada teman-teman PKL yang selalu membuat aku tertawa atas keisengan dan canda tawa kalian, Muhammad Zulfikar, Muhammad Ihsan, Mahbub Ainurrofiq, Kholilurrahman, Endra Guntur Sakti, Jamaluddin, Arif Fahrurozi, Ilham Tanzilullah, Firman Junaidi, mas Sodrun (sy lupa nama aslimu mas&#8230; hehe), mas Rizki, mas Sava, Nafisatul Mukhayyaroh, Iva Kurniatin dan Indahwati. Terutama pada teman2 yang ikhlas menjadi tukang ojek selama aku wira-wiri ke tempat PKL dan tempat latihan kaligrafi, jamal dan kholil, InsyaAllah akan dibalas niat ikhlas kalian, AMIN.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE"><img class="aligncenter size-full wp-image-363" title="bersama para hakim pengadilan agama kota malang" src="http://diyya.files.wordpress.com/2009/08/depan-pa1.jpg?w=655&#038;h=339" alt="bersama para hakim pengadilan agama kota malang" width="655" height="339" /><br />
</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="sv-SE"><br />
</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyya.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyya.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyya.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyya.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyya.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyya.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyya.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyya.wordpress.com/356/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyya.wordpress.com/356/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyya.wordpress.com/356/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=356&subd=diyya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyya.wordpress.com/2009/08/25/laporan-pkl/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a12056b728f0bfe5d0d1e08022c3b4fe?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://diyya.files.wordpress.com/2009/08/depan-pa1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">bersama para hakim pengadilan agama kota malang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita MTQ</title>
		<link>http://diyya.wordpress.com/2009/08/24/cerita-mtq/</link>
		<comments>http://diyya.wordpress.com/2009/08/24/cerita-mtq/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 23:17:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyya.wordpress.com/2009/08/24/cerita-mtq/</guid>
		<description><![CDATA[

Secara umum, pelaksanaan MTQ ke 23 tingkat propoinsi jawa timur yang dilaksanakan di kabupaten Jember berjalan dengan lancar dan baik. Namun jika dibandingkan dengan pelaksanaan MTQ sebelumnya, dalam MTQ kali ini terdapat perbedaan sistem maupun pelayanan yang mengarah pada peningkatan namun juga penurunan kualitas.
Seperti halnya MTQ yang telah lalu, kegiatan utamanya bertempat di stadion yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=347&subd=diyya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="fi-FI">Secara umum, pelaksanaan MTQ ke 23 tingkat propoinsi jawa timur yang d</span><span lang="fi-FI">ilaksanakan di kabupaten Jember berjalan dengan lancar dan baik. <span id="more-347"></span>Namun jika dibandingkan dengan pelaksanaan MTQ sebelumnya, dalam MTQ kali ini terdapat perbedaan sistem maupun pelayanan yang mengarah pada peningkatan namun juga penurunan kualitas.</span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="fi-FI" align="justify">Seperti halnya MTQ yang telah lalu, kegiatan utamanya bertempat di stadion yang telah dihias dan direnovasi sedemikian rupa sehingga tampak indah dan megah. Sayang karena jadwal lomba hiasan mushaf akan dilaksanakan esok hari saya tidak bisa mengikuti kemeriahan pembukaan MTQ yang dibuka secara langsung oleh Gubernur Jawa Timur, jadi harus stay in hotel to prepare the competition.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="fi-FI">Rabu 29 juli 2009, jam 07.00 berangkat ke SECABA tempat di mana lomba kaligrafi dilaksanakan. </span><span lang="fi-FI">Saya dengan teman seperjuangan dari kafilah kabupaten Malang sengaja memilih tempat yang berdampingan di posisi paling depan berhadapan dengan dewan hakim. Tidak begitu menegangkan, justru terasa meyakinkan <span style="text-decoration:line-through;">optimisku</span>. Proses mengerjakan karya saya awali dengan berdoa, selanjutnya mengalir begitu saja. Saya hanya berfikir bahwa saya harus memaksimalkan khot yang akan saya tulis, karena nilai tertinggi ada di situ. Saya harus malu jika tidak bisa menampilkan yang terbaik, Setidaknya dihadapan pembina saya, tentu saja menyesuaiakan dengan kemampuanku. </span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="fi-FI">Sebelum dhuhur </span><span lang="fi-FI">saya sudah menyelesaikan pewarnaan dasar, habis dhuhur saya mulai menulis, menulis dengan sangat hati2 dan tenang. Alhamdulillah kelar juga, tapi tiba2 dewan hakim mengumumkan waktu tinggal 60 menit lagi, padahal ornamen belum saya isi sama sekali, waktu satu jam tidak akan mungkin cukup untuk menyelesaikan karya ini. Terfikir apa saja yang sudah saya lakukan sehingga waktu berjalan di luar rencan saya. Tak peduli&#8230; saya harus fokus mengerjakan karya. Waktu telah habis dan saya mengisi ornamen seadanya. </span><span lang="fi-FI"><em>Wallahu a’lam.</em></span><span lang="fi-FI"> </span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="fi-FI">Selesai lomba semangatku yang menggebu-gebu selama ini lenyap begitu saja, namun jika saat itu saya harus bersedih,  maka perasaan itu tidak begitu menyelimuti, emosiku datar, bingung merealisasikan perasaan yang harus saya ekspresikan. mungkin untuk kegegalan  inilah kemarin saya merasa harus bersedih. Temanku memberi semangat bahwa saya bisa masuk setidaknya 6 besar, namun entahlah&#8230; yang jelas partner mushaf sesama kafilah lebih meyakinkan untuk memasuki peringkat, setidaknya hal ini mengurangi kekecewaanku. Esoknya semua terjawab, temanku Ahmad Rodhi mendapat posisi 5 besar, sedangkan saya harus berbesar hati karena tidak mendapatkan posisi seperti yang sudah ditargetkan. </span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">Tinggal menunggu hasil dekorasi dan naskah. Untuk dekorasi temanku Ali Murtadho mewakili kabupaten Malang seorang diri tanpa ada pasangan putri, karena dengan berbagai pertimbangan dari kafilah maka beberapa peserta yang diakui potensial justru dimutasi ke daerah lain, kami tidak pernah benar-benar tahu apa alasannya sehingga dibuat keputusan seperti ini. Mas Ali menyelesaikan karya dengan tuntas dan cukup menarik perhatian pengunjung. Tidak sedikit yang merasa yakin bahwa karyanya bisa bersaing di tingkat final. Namun lagi-lagi dia harus berbesar hati karena kenyataan tidak menghendaki demikian.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Hal serupa terjadi juga di cabang naskah. Naskah putra yang diwakili oleh Abdul Muntaqim tidak mendapatkan posisi, sedang naskah putri yang diwakili oleh Lailiatul Mubtadi’ah menempati posisi 9 besar. Sekilas teringat tentang segala proses yang telah kami lakukan selama ini, tapi kami sudah sangat kuat untuk mengendalikan perasaan kecewa berkat gemblengan mental dari pak bambang. </span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="sv-SE">Tugas kami selanjutnya adalah menganalisis karya hasil lomba terutama karya-karya yang berhasil menduduki peringkat 6 besar, kemudian dibandingkan dengan karya-karya lain (yang tidak masuk 6 besar). Mencoba mengukur kemampuan kami dan teman-teman yang lain dengan para juara. </span><span lang="sv-SE">Menilai dimana letak kekurangan dan kelebihan yang dimiliki satu sama lain. Berdasarkan apa yang sering menjadi pembicaraan bahwa terdapat beberapa karya yang dirasa ”mungkin” kurang begitu memenuhi standar penilaian lomba, terutama kaidah khot yang memang menjadi center of interest karya yang dilombakan. Namun apapun itu saya pribadi ingin mengembalikan penilaian objektif kepada teman-teman yang mengikuti lomba atau teman-teman yang sekedar mengikuti perjalanan MKQ dan bahkan yang hanya bisa mendengar cerita MTQ.</span></p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="sv-SE" align="justify">Kami ingin sedikit mengapresiasikan sebuah evaluasi atau masukan demi kesuksesan MKQ yang lebih baik lagi pada kesempatan selanjutnya.</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="fi-FI">Hendaknya 	seluruh karya lomba bisa ditampilkan kepada publik, sebagaimana 	pelaksanaan MKQ di MTQ tingkat nasional. Selain para peserta akan 	merasa dihargai karena karyanya bisa ditampilkan, hal ini juga 	sangat bermanfaat bagi seluruh peserta agar bisa mengukur kemampuan 	masing-masing, dan mengetahui dimana letak kekurangan dan kelebihan 	yang mereka miliki.</span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="fi-FI" align="justify">Transparansi para dewan hakim dalam memberikan penilaian hasil karya 	peserta, seperti halnya yang telah dilaksanakan di Blitar dua tahun 	yang lalu (nilai kaidah dan keindahan disosialisasikan secara 	terperinci).</p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" lang="fi-FI" align="justify">Selain itu kami tidak ingin isu-isu bahwa dewan hakim menilai hasil lomba khot karena adanya unsur subyektif <span style="text-decoration:line-through;">karena anak binaannya, atau karena permintaan-permintaan tidak halal dari pihak yang ingin menang secara tidak supportif</span> terbukti. Kami yakin para dewan hakim telah mengerahkan segala tenaga dan fikiran demi memunculkan kader generasi khotot dan khototoh yang berkualitas dan siap untuk berkompetisi pada event yang lebih tinggi demi meninggikan kalimat-kalimat Allah dan mengharumkan nama Jawa Timur sebagaimana semestinya. Mengingat amanah dan sumpah yang telah dilaksanakan oleh dewan hakim bukanlah formalitas belaka.</p>
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span lang="fi-FI">Finally&#8230;. Mengutip pesan dari orang-orang yang telah menjadi inspirator dalam hidup saya ini. Jadikan event-event lomba kaligrafi sebagai ajang mengukur kemampuan dan motivasi untuk terus istiqomah berlatih dan mengasah potensi yang ada dalam diri kita. Hal yang harus kita pegang bahwa ”Keberhasilan itu bukanlah tercapainya tujuan tapi lebih pada proses yaitu komitmen dan konsistensi kita menjalaninya”. </span><span lang="sv-SE">Mario Teguh (motivator) juga bilang, ”Jika kita harus gagal, maka gagallah dalam hal kebaikan”. </span>Kepada Allah kembali segala urusan.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><em>(kepada keluarga, guru, dan teman-temanku &gt; thank you for your wishes and for remembering me in your prayers, may Allah’s blessing always be with U all. Amin) </em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyya.wordpress.com/347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyya.wordpress.com/347/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyya.wordpress.com/347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyya.wordpress.com/347/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyya.wordpress.com/347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyya.wordpress.com/347/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyya.wordpress.com/347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyya.wordpress.com/347/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyya.wordpress.com/347/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyya.wordpress.com/347/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=347&subd=diyya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyya.wordpress.com/2009/08/24/cerita-mtq/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a12056b728f0bfe5d0d1e08022c3b4fe?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>cinta pertama dan terakhir</title>
		<link>http://diyya.wordpress.com/2009/08/12/cinta-pertama-dan-terakhir/</link>
		<comments>http://diyya.wordpress.com/2009/08/12/cinta-pertama-dan-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 13:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyya.wordpress.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[
sebelumnya ku ikat hatiku
hanya untuk aku seorang
sekarang kau di sini
hilang rasanya
semua bimbang tangis kesepian
kau buat aku bertanya
kau buat aku mencari
tentang rasa ini aku tak mengerti
apakah sama jadinya bila bukan kamu
lalu senyummu menyadarkanku
kau cinta pertama dan terakhirku
sebelumnya tak mudah bagiku
tertawa sendiri di kehidupan yang kelam ini
sebelumnya rasanya tak perlu
membagi kisahku tak ada yang mengerti
sekarang kau  disini
hilang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=339&subd=diyya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span id="more-339"></span></p>
<p>sebelumnya ku ikat hatiku</p>
<p>hanya untuk aku seorang</p>
<p>sekarang kau di sini</p>
<p>hilang rasanya</p>
<p>semua bimbang tangis kesepian</p>
<p>kau buat aku bertanya</p>
<p>kau buat aku mencari</p>
<p>tentang rasa ini aku tak mengerti</p>
<p>apakah sama jadinya bila bukan kamu</p>
<p>lalu senyummu menyadarkanku</p>
<p>kau cinta pertama dan terakhirku</p>
<p>sebelumnya tak mudah bagiku</p>
<p>tertawa sendiri di kehidupan yang kelam ini</p>
<p>sebelumnya rasanya tak perlu</p>
<p>membagi kisahku tak ada yang mengerti</p>
<p>sekarang kau  disini</p>
<p>hilang rasanya semua bimbang tangis kesepian</p>
<p>bila suatu saat kau harus pergi</p>
<p>jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik</p>
<p>karena senyummu menyadarkanku</p>
<p>kaulah cinta pertama dan terakhirku</p>
<p><em>(Song lyric cinta pertama dan terakhir by sherina)</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyya.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyya.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyya.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyya.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyya.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyya.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyya.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyya.wordpress.com/339/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyya.wordpress.com/339/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyya.wordpress.com/339/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=339&subd=diyya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyya.wordpress.com/2009/08/12/cinta-pertama-dan-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a12056b728f0bfe5d0d1e08022c3b4fe?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MTQ XXIII Jatim</title>
		<link>http://diyya.wordpress.com/2009/07/01/mtq-xxiii-jatim/</link>
		<comments>http://diyya.wordpress.com/2009/07/01/mtq-xxiii-jatim/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 00:15:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyya.wordpress.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[MTQ yang ke duapuluh tiga tingkat provinsi Jawa timur dilaksanakan di kota jember pada pertengahan juli yaitu mulai tanggal 21-28 juli 2009.
Seperti persiapan MTQ tahun2 sebelumnya. sudah beberapa bulan yang lalu kota jember dipenuhi dengan sosialisasi MTQ spanduk, umbul2, baleho yang bergambarkan wajah2 gubernur jatim dan bupati jember. menurut informasi yang saya dengar, MTQ jatim [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=324&subd=diyya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>MTQ yang ke duapuluh tiga tingkat provinsi Jawa timur dilaksanakan di kota jember pada pertengahan juli yaitu mulai tanggal 21-28 juli 2009.<span id="more-324"></span></p>
<p>Seperti persiapan MTQ tahun2 sebelumnya. sudah beberapa bulan yang lalu kota jember dipenuhi dengan sosialisasi MTQ spanduk, umbul2, baleho yang bergambarkan wajah2 gubernur jatim dan bupati jember. menurut informasi yang saya dengar, MTQ jatim kali ini akan <span>dibuka secara resmi oleh Gubernur Jawa Timur dan ada juga penyerahan Piala Bergilir MTQ dari Walikota Sidoarjo kepada Bupati Jember. </span></p>
<p><span>yang menarik dari moment MTQ  ini adalah atraksi hiburan yang akan menyemarakkan acara pembukaan MTQ. selain riuhnya kembang api yang mengiringi acara pembukaan dan penutupan, para kafilah MTQ akan dihibur oleh Opick, Tari Kolosal, Balasyik dan juga penampilan JFC (Jember Fashion Carnaval) yang penampilannya akan disesuaikan dengan budaya Islam.</span></p>
<p><span>oya, yang berbeda dan tak didapatkan di kota yang pernah menjadi tuan rumah MTQ adalah, pada bulan juli sampai dengan agustus di Jember ada event BBJ (Bulan Berkunjung ke Jember) pada dua bulan itu akan digelar berbagai macam kegiatan termasuk MTQ. jadi jangan lewatkan untuk mengikuti kegiatan MTQ sekaligus wisata kota Jember, dijamin gak nyesel (ya kali&#8230;)<br />
</span></p>
<p><span><br />
</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyya.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyya.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyya.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyya.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyya.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyya.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyya.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyya.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyya.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyya.wordpress.com/324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=324&subd=diyya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyya.wordpress.com/2009/07/01/mtq-xxiii-jatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a12056b728f0bfe5d0d1e08022c3b4fe?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Munawir Sjadzali</title>
		<link>http://diyya.wordpress.com/2009/06/29/munawir-sjadzali/</link>
		<comments>http://diyya.wordpress.com/2009/06/29/munawir-sjadzali/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 00:56:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Syari'ah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyya.wordpress.com/2009/06/29/munawir-sjadzali/</guid>
		<description><![CDATA[
Perkembangan Pemikiran Hukum Islam Di Indonesia 
Munawir Sjadzali



Latar 	Belakang Sosial Akademik


Biografi 		Intelektual Munawir Sjadzali




 Munawir Sjadzali lahir di desa Karanganom, Klaten, Jawa Tengah, pada 7 November 19251  dan meninggal pada tanggal 23 Juli 20042. Ia adalah anak tertua dari delapan bersaudara dari  pasangan Abu Aswad Hasan Sjadzali (putra Tohari) dan Tas‘iyah (putri Badruddin). Dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=320&subd=diyya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P.sdfootnote { margin-left: 0.5cm; text-indent: -0.5cm; margin-bottom: 0cm; font-size: 10pt } 		P { margin-bottom: 0.21cm } 		A:link { color: #0000ff } 		A.sdfootnoteanc { font-size: 57% } --></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><strong>Perkembangan Pemikiran Hukum Islam Di Indonesia </strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="center"><strong>Munawir Sjadzali<span id="more-320"></span></strong></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><strong>Latar 	Belakang Sosial Akademik</strong></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><strong>Biografi 		Intelektual Munawir Sjadzali</strong></p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><a name="_ednref2"></a> Munawir Sjadzali lahir di desa Karanganom, Klaten, Jawa Tengah, pada 7 November 1925<sup><a name="sdfootnote1anc" href="#sdfootnote1sym"><sup>1</sup></a></sup><a href="%5CTUGASSS%5CKULIAH%5CPPMHI%20Munawir%20Syadzali%5Chttpwww.averroes.or.idresearchmunawir-sjadzali-dan-international-studiesmenembus-kebekuan-pendidikan-islam.html.htm#_edn2"> </a> dan meninggal pada tanggal 23 Juli 2004<sup><a name="sdfootnote2anc" href="#sdfootnote2sym"><sup>2</sup></a></sup>. Ia adalah anak tertua dari delapan bersaudara dari  pasangan Abu Aswad Hasan Sjadzali (putra Tohari) dan Tas‘iyah (putri Badruddin). Dari segi ekonomi, keluarga Abu Aswad jauh dari cukup, tetapi dari segi agama keluarga ini dikenal sebagai keluarga yang  taat beragama. Ayahnya adalah seorang kiai dan sekaligus pemimpin Ranting Muhammadiyah di desa. Sebagai mantan santri, ayah Munawir juga aktif dalam kegiatan tarekat Sjadzaliyyah. Dalam diri ayah Munawir tergabung pemikiran modern dan jiwa yang tenang (sufisme), hal ini pula yang mengalir pada Munawir. Sebagai orang tradisional, dia selalu menjaga etika ketimuran (jawa), dan sebagai orang modern dia merespon setiap perubahan yang positif termasuk pembaharuan pemikiran hukum Islam.<sup><a name="sdfootnote3anc" href="#sdfootnote3sym"><sup>3</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dua fenomena yang ada pada keluarga Munawir Sjadzali yaitu kondisi ekonomi yang serba kekurangan dan penghargaan yang tinggi terhadap ilmu-ilmu keagamaan, menghadapkan Munawir pada satu pilihan pendidikan yaitu Madrasah. Selain karena biaya pendidikan di lembaga pendidikan Islam ini relatif murah, lembaga pendidikan ini juga mengutamakan ilmu-ilmu tradisional Islam. Karena alasan ini pula, setelah menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di kampungnya, Munawir melanjutkan pendidikan ke Mambaul Ulum, Solo.</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><a name="_ednref4"></a> Dengan segala penderitaan dan perjuangan, pada tahun 1943 tepatnya di usia 17 tahun, Munawir berhasil menyelesaikan sekolahnya di Mambaul Ulum dengan mengantongi ijazah dari madrasah terkenal ini.<a href="%5CTUGASSS%5CKULIAH%5CPPMHI%20Munawir%20Syadzali%5Chttpwww.averroes.or.idresearchmunawir-sjadzali-dan-international-studiesmenembus-kebekuan-pendidikan-islam.html.htm#_edn4"> </a>Melihat pendidikan yang ditempuh, Munawir tidak hanya dapat dikategorikan sebagai santri secara formal, tetapi juga substansial. Sebagai santri, ciri yang paling menonjol dari Munawir adalah kemampuannya untuk memahami kitab-kitab klasik Islam. Pada gilirannya, hal ini membawa implikasi pada luasnya wawasan keagamaan, karir intelektual dan pemerintahan, serta kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan jabatannya sebagai Menteri Agama nantinya.</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mambaul Ulum, Munawir melakukan pengembaraan panjang, menjadi guru di sekolah Muhammadiyah Salatiga dan kemudian pindah menjadi guru di Gunungpati, Semarang. Dari Gunungpati inilah keterlibatan Munawir dalam kegiatan-kegiatan umat Islam dalam skala nasional dimulai. Kegiatan Munawir yang tadinya hanya mengajar, berkembang ke arah kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial. Munawir hampir selalu dilibatkan dalam kegiatan yang diadakan oleh badan-badan resmi maupun swasta. Bahkan di Gunungpati inilah untuk pertama kalinya Munawir bertemu dengan Bung Karno yang waktu itu menjabat sebagai Ketua Umum Putera (Pusat Tenaga Rakyat) yang berkunjung ke Gunungpati.</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Munawir adalah tipe seorang aktifis yang banyak berkiprah dalam beberapa organisasi, di antaranya sebagai Ketua Angkatan Muda Gunungpati,  Ketua Markas Pimpinan Pertempuran Hizbullah-Sabilillah (MPHS) dan Ketua Umum Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Semarang.<sup><a name="sdfootnote4anc" href="#sdfootnote4sym"><sup>4</sup></a></sup> Kehidupan Munawir selama setahun di Semarang sangat mempengaruhi perjalanan hidupnya. <em>Pertama</em>, Munawir menemukan jodohnya, seorang gadis bernama Murni, yang waktu itu aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Pada tanggal 25 Mei 1950, Munawir melangsungkan pernikahan <em>sirri</em> dengan Murni, putri Tas Sekti, cucu Tasripin, seorang konglomerat pribumi Semarang. Pernikahan ini diresmikan pada tanggal 11 Oktober 1950. Pernikahan Munawir-Murni ini dianugerahi enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga perempuan. <em>Kedua</em>, karena memiliki banyak waktu luang di Semarang seusai muktamar GPII, Munawir mencoba menelaah konsepsi politik Islam yang berkembang di masa klasik. Dengan memanfaatkan perpustakaan Kyai Munawar Kholil, yang penuh dengan kitab-kitab Islam klasik, Munawir berhasil menulis buku yang berjudul <em>“Mungkinkah Negara Indonesia Bersendikan Islam</em>.<sup><a name="sdfootnote5anc" href="#sdfootnote5sym"><sup>5</sup></a></sup> Bung Hatta, orang nomor dua di Indonesia saat itu sempat membaca tulisan Munawir hingga pada suatu saat Bung Hatta dipertemukan dengan Munawir. Dari pertemuan inilah Munawir dipercaya untuk bekerja di Departemen Luar Negeri.<sup><a name="sdfootnote6anc" href="#sdfootnote6sym"><sup>6</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Di lingkungan Departemen Luar Negeri Munawir dikenal sebagai orang yang cerdas dan sangat akrab dengan seorang tokoh Masyumi yaitu Raden Syamsurrijal. Munawir belajar banyak tentang politik Islam kepada Syamsurrijal.</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Selanjutnya kehidupan Munawir mulai berubah. Kesempatan untuk melanjutkan studi keluar negeri seperti yang dia impikan telah terbuka lebar. Munawir melanjutkan studi bidang politik di Exeter University, London (1953-1954). Kemudian dia ditugaskan sebagai diplomat di Washington (1953-1954). Sambil bekerja Munawir menggunakan kesempatan untuk mendalami ilmu politik di George Town University, yang kemudian akhirnya dia menulis sebuah tesis yang berjudul <em>“Indonesian Moselm Political Parties and Their Political Concepts”.</em><sup><em><a name="sdfootnote7anc" href="#sdfootnote7sym"><sup>7</sup></a></em></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Sepanjang tahun 1959-1983, Munawir menghabiskan waktunya sebagai diplomat di luar negeri. Pada tanggal 19 Maret 1983 Munawir Sjadzali dipercaya oleh Soeharto sebagai Menteri Agama dengan Keputusan Presiden RI. No. 14 A/1983 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan IV, dalam periode Kabinet Pembangunan IV (1983-1988). Sebelumnya, selama 32 tahun lebih Munawir Sjadzali mengabdi di Departemen Luar Negeri dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Jenderal Politik. <sup><a name="sdfootnote8anc" href="#sdfootnote8sym"><sup>8</sup></a></sup> Tugas sebagai Menteri Agama dilanjutkan pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Selama menjadi Menteri Agama Republik Indonesia, Munawir dianggap sebagai “pahlawan” terhadap penerimaan ide asas tunggal pancasila, pembenahan terhadap lembaga pendidikan agama, pengiriman dosen IAIN ke Eropa dan Amerika, penyelesaian UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama, dan penyelesain Kompilasi Hukum Islam (KHI). Orientasi Munawir adalah untuk kemashlahatan umat Islam di Indonesia.<sup><a name="sdfootnote9anc" href="#sdfootnote9sym"><sup>9</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><strong>Karya, 		Gagasan dan Penghargaan </strong></p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Beberapa karya yang telah Munawir Sjadzali tulis mengenai beberapa bidang, mulai dari pengalamannya sebagai menteri agama, wawasan keislaman, ketatanegaraan, pendidikan agama, pemerintahan dan tentu saja tentang perkembangan pemikiran Islam. Adapun beberapa judul tulisan Munawir Sjadzali antara lain adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL957524M%5CBunga-rampai-wawasan-Islam-dewasa-ini"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Bunga 	rampai wawasan Islam dewasa ini</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL1070054M%5CIslam,-realitas-baru,-dan-orientasi-masa-depan-bangsa"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Islam, 	realitas baru, dan orientasi masa depan bangsa</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL1070890M%5CIslam-dan-tata-negara"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Islam 	dan tata negara</span></span></a></span> <span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL1071357M%5CPembinaan-aparatur-pemerintah-dan-masyarakat-beragama"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Pembinaan 	aparatur pemerintah dan masyarakat beragama</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL1071358M%5CPendidikan-agama-dan-pengembangan-pemikiran-keagamaan"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Pendidikan 	agama dan pengembangan pemikiran keagamaan</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL1694488M%5CIslam-and-governmental-system"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Islam 	and governmental system</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL2017096M%5CIslam-dan-tata-negara"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Islam 	dan tata negara</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL2172261M%5CPeranan-ilmuwan-Muslim-dalam-negara-Pancasila"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Peranan 	ilmuwan Muslim dalam negara Pancasila</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL2366538M%5CKiprah-pembangunan-agama-menuju-tinggal-landas"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Kiprah 	pembangunan agama menuju tinggal landas</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL2366677M%5CPokok-pokok-kebijaksanaan-Menteri-Agama-dalam-pembinaan-kehidupan-beragama."><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Pokok-pokok 	kebijaksanaan Menteri Agama dalam pembinaan kehidupan beragama.</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL2516710M%5CTugas-pengajian-Islam"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Tugas 	pengajian Islam</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL2519376M%5CKebangkitan-kesadaran-beragama-sebagai-motivasi-kemajuan-bangsa"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Kebangkitan 	kesadaran beragama sebagai motivasi kemajuan bangsa</span></span></a></span></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><a href="///%5C%5Cb%5COL2703770M%5CPartisipasi-umat-beragama-dalam-pembinaan-nasional"><span style="color:#000000;"><span style="text-decoration:none;">Partisipasi 	umat beragama dalam pembinaan nasional</span></span></a></span>.</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">Mungkinkah 	Negara Indonesia Bersendikan Islam</p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">Ijtihad 	Kemanusiaan (1997)<sup><a name="sdfootnote10anc" href="#sdfootnote10sym"><sup>10</sup></a></sup></p>
</li>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;">Reaktualisasi 	Ajaran Islam.</p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Munawir adalah seorang pemimpin pembaharu pemikiran Islam dan mempunyai banyak gagasan. Dialah yang menggagas pertemuan tahunan Menteri-Menteri Agama Negara Brunei Darussalam, Republik Indonesia, Malaysia dan Singapura. Ide dan gagasannya dalam kongres Menteri-Menteri Agama seluruh dunia di Jeddah pada tahun 1988, telah diterima beberapa negara, sehingga diadakan empat kali pertemuan tahunan untuk meningkatkan pembaharuan pemikiran perihal Islam di kalangan negara anggota.<sup><a name="sdfootnote11anc" href="#sdfootnote11sym"><sup>11</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam pengabdiannya, ia telah mendapatkan sejumlah penghargaan, termasuk dari sejumlah negara sahabat. Antara lain, penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana dan Satyalencana Karya Satya Kelas II dari Pemerintah Indonesia, Great Cordon of Merit dari Pemerintah Qatar, Medallion of the Order of Quwait-Special Class dari Kuwait, dan Heung in Medal-Second Class dari Korea Selatan.<sup><a name="sdfootnote12anc" href="#sdfootnote12sym"><sup>12</sup></a></sup></p>
<ol>
<li>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><strong>Munawir 		Sjadzali dan Pembaruan Pendidikan Agama Islam</strong></p>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><a name="_ednref5"></a> Munawir Sjadzali sangat gencar melakukan pembenahan pendidikan, khususnya pendidikan di wilayah Departemen Agama. Hal ini karena menurutnya, pendidikan merupakan media yang paling tepat untuk menyiapkan calon pemimpin bangsa yang tangguh. Untuk itu, Munawir segera melakukan pembenahan terhadap IAIN. Kenapa IAIN? Karena, IAIN merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam yang strategis, akan tetapi tidak diimbangi dengan landasan hukum yang kuat. Kondisi demikian selanjutnya berimplikasi pada kecilnya anggaran yang diterima IAIN, khususnya jika dibandingkan dengan perguruan tinggi negeri lainnya –yang bernaung di bawah payung Depdikbud- sehingga hal ini harus dicarikan solusi secepatnya, agar IAIN betul-betul mampu menjadi lembaga yang mencetak kader berpendidikan agama yang berkualitas. Setidaknya ada dua langkah yang dilakukannya sebagai solusi atas hal itu; pertama, pembenahan yang dilakukan dari segi hukum, dan kedua, dari segi Sumber Daya Manusia (SDM).<a href="%5CTUGASSS%5CKULIAH%5CPPMHI%20Munawir%20Syadzali%5Chttpwww.averroes.or.idresearchmunawir-sjadzali-dan-international-studiesmenembus-kebekuan-pendidikan-islam.html.htm#_edn5"> </a></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Pada bulan Mei 1985, Nugroho Notosusanto, Saleh Afif dan Munawir menghadap Presiden Soeharto di Bina Graha. Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang IAIN akhirnya tersusun.  RPP tentang dasar hukum IAIN tersebut akhirnya ditetapkan menjadi PP No. 33 Tahun 1985. Dengan PP ini status, perlakuan, dan fasilitas IAIN yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia sederajat dengan perguruan tinggi negeri yang dikelola Depdikbud. Peraturan Pemerintah itu selanjutnya dijabarkan dalam Keppres No. 9 Tahun 1987 yang kemudian menjadi bagian dari UU No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Artinya pendidikan agama diletakkan sebagai sub-sistem pendidikan nasional, yang menjadi bagian dan penopang sistemnya.</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><a name="_ednref6"></a> Selanjutnya Munawir meninjau kembali SKB Tiga Menteri tahun 1975 yang dikeluarkan pada masa Prof. Dr. Mukti Ali menjabat Menteri Agama yang menetapkan bahwa madrasah harus bermuatan 70% pengetahuan umum dan 30% pengetahuan agama. Maksud SKB ini memang baik, tetapi akibat yang tampaknya kurang diperhitungkan adalah tamatan Madrasah Aliyah (MA) menjadi lebih siap masuk ke perguruan tinggi umum daripada perguruan tinggi agama. Mereka jelas bukan merupakan bibit unggul untuk IAIN. Penguasaan agama tamatan MA bukan hanya sangat lemah, lebih dari itu bahkan tidak dapat diandalkan untuk menjadi calon-calon ulama, sehingga Munawir merasa perlu untuk menyempurnakan kembali SKB Tiga Menteri itu dengan mengadakan pilot project Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) dengan muatan kurikulum 70% pengetahuan agama dan 30% pengetahuan umum. Dengan struktur kurikulum demikian, harapan untuk mengembangkan ilmu-ilmu keislaman yang sejalan dengan tantangan modernitas melalui IAIN dengan cepat akan segera terwujud. Ide penyempurnaan SKB Tiga Menteri ini disetujui oleh Presiden Soeharto. Sehingga pada 1988 proyek MAPK dimulai dan untuk tahap pertama, dibuka di lima lokasi; Padang Panjang, Ciamis, Yogyakarta, Ujung Pandang, dan Jember. Selanjutnya, MAPK ditambah  di lima kota lagi, yaitu di Banda Aceh, Lampung, Solo, Banjarmasin, dan Mataram.<a href="%5CTUGASSS%5CKULIAH%5CPPMHI%20Munawir%20Syadzali%5Chttpwww.averroes.or.idresearchmunawir-sjadzali-dan-international-studiesmenembus-kebekuan-pendidikan-islam.html.htm#_edn6"> </a>Dalam perkembangannya, menurut Zamakhsjari Dhofier, jumlah MAPK sudah membengkak menjadi 110 buah. Salah satu keberhasilan proyek ini, menurut Munawir adalah berhasilnya 48 alumni MAPK tahun 1991 mengikuti proses belajar mengajar di Universitas Al-Azhar. Melihat keberhasilan proyek MAPK ini, Presiden Soeharto memberikan saran agar proyek serupa juga diterapkan untuk Madrasah Tsanawiyah.</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><a name="_ednref7"></a> Kegelisahan Munawir selanjutnya bukan hanya berkaitan dengan kondisi Madrasah saja, melainkan juga mutu staf pengajar IAIN, sehingga bersamaan dengan pelaksanaan proyek MAPK, ia juga berusaha meningkatkan kualitas dosen IAIN dengan menghidupkan kembali tradisi mengirim dosen IAIN untuk studi ke negara-negara Barat khususnya ke Universitas McGill, (Montreal, Kanada) dan Universitas Leiden (Belanda) yang dulu pernah dirintis Mukti Ali. Menurutnya, ilmuwan Muslim Indonesia yang mampu berkomunikasi dengan dunia modern adalah mereka yang di samping mendapat pendidikan S1 di Timur, juga mengenyam pendidikan S2 dan S3 di Barat. Munawir menunjuk nama-nama seperti Prof. Dr. HM. Rasjidi, Prof. Dr. Mukti Ali, dan Prof. Dr. Harun Nasution<a href="%5CTUGASSS%5CKULIAH%5CPPMHI%20Munawir%20Syadzali%5Chttpwww.averroes.or.idresearchmunawir-sjadzali-dan-international-studiesmenembus-kebekuan-pendidikan-islam.html.htm#_edn7"> </a>sebagai prototype ilmuwan Muslim Indonesia.<sup><a name="sdfootnote13anc" href="#sdfootnote13sym"><sup>13</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><strong>Metodologi 	Ijtihad Munawir Sjadzali</strong></p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam berijtihad, Munawir menggunakan tiga kerangka metodologi, yaitu <em>‘adah</em>, <em>nasakh</em> dan <em>maslahah. </em> Adapun uraian tentang ketiga metodologi tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Kebiasaan 	<em>(‘adah)</em></p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Munawir selalu mengutip pendapat Abu Yusuf yang mengatakan bahwa nash diturunkan dalam suatu kasus adat tertentu. Jka adat berubah, maka gugur pula dalil hukum yang terkandung dalam nash tersebut.<sup><a name="sdfootnote14anc" href="#sdfootnote14sym"><sup>14</sup></a></sup> Bagi Munawi nash hanyalah sebuah tawaran bagi pemecahan masalah (hukum, sosial, politik) yang efektif dalam kondisi sosial masyarakat tertentu. Apabila terjadi pertentangan antara nash dan adat, dan ternyata adat lebih menjamin kemaslahatan yang dibutuhkan oleh masyarakat, maka adat dapat diterima. Kekuatan hukumnya sama kuatnya dengan hukum yang ditetapkan berdasarkan nash. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi bahwa sesuatu yang dipandang baik oleh umat Islam, maka dianggap baik di sisi Allah.</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ada beberapa ayat yang menjadi sorotan Munawir karena dianggap sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan sekarang, seperti QS. Al-Nisa’:3, <span>QS. Al-Ahzab: 52, QS. Al-Ma’arij:30</span></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Ayat-ayat tersebut hanya memberikan solusi bagi generasi awal pertengahan. “Penolakan” terhadap nash karena adanya adat baru yang dipandang sebagai <em>illat</em> pembatalan hukum yang terkandung dalam nash adalah sesuai dengan kaidah yang mengatakan:</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" dir="rtl" align="justify"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">الحكم يدر مع العلة وجودا و عدما</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" dir="rtl" align="justify"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">تغير الاحكام بتغير الامكنات و العازمات</span></span></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span>Hal ini tidak otomatis bias dipandang sebagai pengabaian nash, namun merupakan cara lain untuk menafsir-ta’wilkan kandungan (maslahah) yang terdapat dalam nash. Teori ini masih sangat layak digunakan dalam pengembangan hukum Islam. Teori adat yang disiapkan dalam kerangka metodologi hukum Islam ini merupakan langkah untuk mengantisipasi perubahan dalam masyarakat, karena kebutuhan hukum masyarakat tidak akan pernah mati dan akan terus berkembang. Untuk itu adat ini digunakan sebagai salah satu alat yang memberikan jaminan bahwa Islam </span><span><em>Shalih li kulli makan wa zamanin</em></span><span>.</span><sup><span><a name="sdfootnote15anc" href="#sdfootnote15sym"><sup>15</sup></a></span></sup></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><em>Naskh</em></p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam pandangan Munawir, nasakh adalah pergeseran atau pembatalan hukum-hukum atau petunjuk yang terkandung dalam ayat-ayat yang diterima oleh Rasul pada masa sebelum-sebelumnya. Munawir sering mengutip pendapat Mufassir besar seperti Ibn Katsir, al-Maraghi, Muhammad Rasyid Ridha dan Sayyid Qutb. Menurut para mufassir tersebut, nasakh merupakan suatu keharusan karena perubahan hukum sangat erat kaitannya dengan perubahan tempat dan waktu. Oleh karena itu, nasakh sangatlah diperlukan.<sup><a name="sdfootnote16anc" href="#sdfootnote16sym"><sup>16</sup></a></sup></p>
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><em>Maslahah</em></p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Mengutip dari konsep maslahah atThufi bahwa jika terjadi perselisihan antara kepentingan masyarakat dengan nash dan ijma’, maka wajib mendahulukan kepentingan masyarakat atas nash dan ijma’. Pemikiran at-Thufi ini dibangun atas empat prinsip dasar.</p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" dir="rtl" align="justify"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">استقلال العقول بادراك المصالح و المفاسد</span></span></p>
<p style="margin-left:.64cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span><em>(Kebebasan akal untuk menentukan baik dan buruk [tanpa harus dibimbing oleh kebenaran wahyu])</em></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" dir="rtl" align="justify"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">المصلحة دليل الشرع مستقل عن النصوص </span></span></p>
<p style="margin-left:.64cm;margin-bottom:0;" align="justify">“<span><em>Maslahah adalah dalil syara’ yang tidak terikat dengan ketentuan nash.”</em></span></p>
<p style="margin-left:.64cm;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" dir="rtl" align="justify"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">مجل العمل بالمصلحة هو المعاملات دون العبادة</span></span></p>
<p style="margin-left:.64cm;margin-bottom:0;" align="justify">“<span><em>Maslahah hanya dapat dijadikan dalil syara’ dalam bidang mu’amalah, tidak dalam bidang ibadah.”</em></span></p>
<p style="margin-left:.64cm;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" dir="rtl" align="justify"><span style="font-family:Tahoma;"><span style="font-size:medium;">المصلحة اْقوى دليل الشرع </span></span></p>
<p style="margin-left:.64cm;margin-bottom:0;" align="justify">“<span><em>Maslahah adalah dalil syara’ yang terkuat.”</em></span></p>
<p style="margin-left:.64cm;margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Adat, nash dan maslahah selalu menjadi landasan metodologis Munawir dalam melakukan ijtihad. Kadang ketiganya digunakan secara terpisah, dan tidak jarang digunakan secara bersamaan. Dalam menerapkan ijtihad di bidang waris, Munawir menggabungkan ketiga metodologi tersebut dengan mengangkat latar belakang sosial masyarakat Solo, Jawa Tengah. Karena di Solo kaum perempuan merupakan pihak<span> yang aktif dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. </span></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span>Untuk masyarakat Arab yang menganut budaya patriakhi (budaya yang menguntungkan laki-laki), system pembagian waris yang ditawarkan al-qur’an sangat revolusioner, karena perempuan mendapat bagian setengah dari bagian laki-laki. Namun untuk konteks masyarakat Solo, ketentuan pembagian warisan sebagaimana ditawarkan al-Qur’an tidak memberikan kemaslahatan dan tidak adil. Menurut Munawir ayat waris dalam al-Qur’an perlu di nasakh (ditangguhkan pemberlakuannya) apabila dalam suatu masyarakat berlaku budaya matrilineal atau bilateral, seperti di Solo dan sejumlah wilayah di Indonesia. Peran dan status perempuan di Arab berbeda dengan peran dan status perempuan yang ada pada masyarakat Solo. Potret perempuan dalam pandangan masyarakat Ara adalah sosok manusia pingitan, sedangkan di Solo perempuan merupakan sosok yang aktif dalam memenuhi kebutuhan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, ketentuan hukum yang harus diberlakukan terhadap komunitas tersebut harus berbeda.</span></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span>Penangguhan pemberlakuan ayat waris dalam al-Qur’an akan memunculkan pemikiran baru (ijtihad) yang lebih memperjuangkan nilai kemaslahatan bagi masyarakat Indonesia dalam pembagian warisan. Hal ini harus diakui sebagai sebuah produk hukum, agar umat Islam Indonesia tidak terjebak pada dualisme hukum dalam pembagian warisan. Umat Islam tidak tampak lagi sebagai orang yang tidak konsisten yaitu mengaku sebagai orang Islam, namun dalam sisi lain tidak melaksanakan hukum Islam secara holistic dalam keseharian kehidupan mereka.</span></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span>Konsep adapt, nasakh dan maslahah yang dijadikan Munawir sebagai pijakan epistema-metodologis dalam pembaharuan pemikiran dan pengembangan hukum Islam masih perlu dikaji lebih dalam. Terlebih jika dikaitkan dengan masalah-masalah yang muncul dari fenomena-fenomena particular-kasuistik. Ijtihad Munawir tentang kewarisan hanya terfokus pada masyarakat Solo. Memerlukan alat dan pemikiran berbeda untuk mengijtihadi fenomena perempuan yang latar belakang kultur-sosioligisnya dalam masalah harta warisan berbeda dengan masyarakat Solo. Oleh karena itu, dengan tetap menghargai kontribusinya dalam pembaharuan pemikiran dan pengembangan hukum Islam.</span><sup><span><a name="sdfootnote17anc" href="#sdfootnote17sym"><sup>17</sup></a></span></sup><span> </span></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>Latar 	Belakang dan Poin-poin Pemikiran Munawir Sjadzali dalam Hukum Islam </strong></p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Sebagai seorang negarawan dan ilmuan, Munawir sangat berminat dalam mengembangkan ilmu Islam. Penguasaan dan pemikirannya menonjol dalam dua bidang yaitu Hukum Islam dan <em>Fiqh Siyasi</em>. Kegelisahan Intelektual Munawir memicu dirinya untuk menuangkan beberapa gagasan reaktualisasi hukum Islam. Dua pemikiran yang memicu Munawir untuk memunculkan ide reaktualisasi ini adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><em>Pertama</em>, Munawir melihat bahwa adanya sikap ambigu di kalangan umat Islam dalam menjalankan hukum Islam. Hal ini dapat dilihat dalam penyikapan umat Islam terhadap hukum keharaman bunga Bank. Pada saat yang sama umat Islam Indonesia tetap menggunakan jasa perbankan konvensional, hal ini bertentangan dengan apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan.<sup><a name="sdfootnote18anc" href="#sdfootnote18sym"><sup>18</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><em>Kedua</em>, dalam hal pembagian harta warisan. Dalam  al-Quran surat al-Nisa&#8217; ayat 11, dengan jelas menyatakan tentang pembagian harta warisan. Tetapi ketentuan tersebut sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat Islam Indonesia, baik secara lansung maupun tidak lansung. Munawir menyatakan bahwa ia mengetahui hal semacam ini setelah beliau menjadi Menteri Agama. Sebagai Menteri Agama Munawir banyak mendapat laporan dari para hakim di Pengadilan Agama di berbagai daerah, termasuk daerah-daerah yang kuat Islamnya, seperti Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan, tentang banyaknya penyimpangan pembagian harta warisan dari ketentuan al-Quran tersebut. Para hakim sering kali menyaksikan, setelah perkara waris diputus secara <em>faraidh</em>, ahli waris tidak mau melaksanakannya. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang awam saja, melainkan juga dari tokoh organisasi Islam yang cukup menguasai ilmu-ilmu keislaman. Dari kedua latar belakang ini kemudian menarik Munawir untuk berijtihad.</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Menurut Munawir, hukum Islam adalah hukum Allah yang terbagi dalam ranah <em>qath’iyah</em> dan <em>zhanniyah</em>. Dalam ranah <em>qath’i</em>yah, umat manusia harus menerimanya tanpa bantahan karena hal tersebut merupakan aturan-aturan hukum yang berkaitan dengan masalah ibadah, dan dalam masalah ibadah tidak semuanya dapat dicapai oleh akal manusia.</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Dalam bidang muamalah, Munawir sangat menganjurkan untuk menggunakan akal secara optimal dalam menemukan jawaban hukum. Munawir sangat berpihak pada aspek-aspek sosiologis-histories kemanusiaan, sekalipun kadang harus bertentangan dengan dalil nash yang <em>sharih</em> dan <em>qath’i</em>. Tidak mungkin mengabaikan aspek sosiologis-historis untuk menjawab kasus hukum yang berkaitan dengan urusan manusia. Orientasi yang dikedepankan oleh Munawir adalah kemaslahatan duniawi yang akan membawa manusia kepada kemaslahatan ukhrawi.<sup><a name="sdfootnote19anc" href="#sdfootnote19sym"><sup>19</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Masih dalam bidang yang sama yaitu muamalah, Munawir juga berpandangan bahwa apabila ada dalil <em>qath’i</em> yang menunjukkan sebuah keharusan pelaksanaan ketentuan hukum, akan tetapi penerapannya tidak memberikan maslahah bagi masyarakat, maka penggunaan dalil <em>qath’i</em> tersebut ditinggalkan. Menurut munawir hal ini boleh karena lafadz <em>qath’i</em> mengandung makna <em>ihtimal</em> (kemungkinan). Kemungkinan lafadz <em>qath’i</em>, kemungkinan <em>nasakh</em>, kemungkinan <em>taqyid</em>, <em>taqdim, ta’khir, takhsish</em> dan <em>ta’arudl al-‘aql</em> (bertentangan dengan akal). Penerapan ayat <em>qath’iyah</em> pun masih dipertanyakan. Apakah ia dilaksanakan sepanjang waktu tertentu, atau karena adanya <em>‘illat</em> yang memungkinkan ia diberlakukan dalam waktu tertentu. Dalam hal ini Munawir berpatokan pada statemen yang kedua, bahwa berlakunya hukum karena adanya <em>‘illat</em> yang menyertai ketentuan hukum tersebut. Oleh karena itu, meskipun ayat tersebut <em>qath’iyyah</em>, tetapi masih perlu dipertimbangkan pada aspek penerapannya, termasuk dalam hal ini adalah pembagian waris yang oleh banyak ulama dianggap sebagai ketentuan yang bersifat <em>qath’i</em>.<sup><a name="sdfootnote20anc" href="#sdfootnote20sym"><sup>20</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Munawir memperingatkan agar dalam proses ijithad tidak terjadi anarkhisme pemikiran. Prinsip yang harus diperhatikan adalah proses ijtihad harus dilakukan oleh kelompok yang betul-betul mumpuni. Untuk konteks sekarang ini ijtihad harus dilakukan secara kolektif.<sup><a name="sdfootnote21anc" href="#sdfootnote21sym"><sup>21</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>Relevansi 	Pemikiran Munawir Sjadzali dengan Perkembangan dan Pembentukan Hukum 	Islam di Indonesia</strong></p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Beberapa ide pembaharuan dalam bidang hukum oleh Munawir dalam Reaktualisasi Ajaran Islam pada awal tahun 1985, dilontarkan pada saat kondisi umat Islam Indonesia masih belum berani befikir kritis terhadap apa-apa yang dianggap final oleh para ulama terdahulu. Awalnya ide pembaharuan ini tidak begitu mendapat respon berarti dari para pemikir hukum Islam Indonesia. Namun, setelah ide ini dilontarkan pada forum Paramadina, timbullah reaksi pro dan kontra di kalangan ulama dan cendekiawan muslim Indonesia pada saat itu.<sup><a name="sdfootnote22anc" href="#sdfootnote22sym"><sup>22</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><a name="_ftnref6"></a> Sebagai contoh, Ahmad Siddiq dan Ali Darokah –Pengurus Majelis Ulama Surakarta pada waktu itu- menulis makalah singkat atas dukungannya terhadap Munawir. Sedangkan yang kontra yang dapat disebutkan disini adalah para ulama yang ikut membahas rancangan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang secara tegas menolak menyimpang dari ketentuan al-Qur’an, karena ketentuan 2:1 itu bersifat <em>qath’i</em>, jelas dan rinci. Oleh karena aturan pembagiannya sudah rinci serta nashnya jelas dan terang (<em>shorih</em>) berarti ketentuan pembagian tersebut tuntas dan terhadap nash yang demikian tidak perlu atau tidak dimungkinkan lagi peluang berijtihad. Hal senada juga diungkapkan oleh Azhar Basyir bahwa ungkapan al-Qur’an mengenai hukum waris sangat tandas dan tajam. Dengan memperhatikan ketegasan al-Qur’an mengenai hukum waris, menurut Azar Basyir, sepatutnya kita tanamkan keyakinan bahwa membagi harta warisan seseorang adalah menjadi hak Allah. Oleh karena manusia mukmin wajib ridha menerima ketentuan Allah sebagai bagian keimanan kita kepada Allah. Adapun penyimpangan yang terjadi di kalangan masyarakat muslim mengenai hukum waris, seharusnya tidak tegesa-gesa dinyatakan sebagai hukum waris yang bertentangan dengan rasa keadilan. Yang mungkin terjadi, mereka kurang memahami filosofi hukum waris Islam. Demikian alasan yang diajukan Azar Basir sebagaimana tercantum dalam Panji Masyarakat No. 552, 1987: 67. Senada dengan Azar Basyir, Ali Yafie berpendapat bahwa perubahan hukum melalui jalan nash terjadi pada tingkat <em>syari’ah</em> (al-Qur’an dan hadist). Berakhirnya periode tasyri’, dengan wafatnya penerima wahyu Rasulullah saw., maka perubahan hukum melalui jalur nash, sudah berakhir. <sup><a name="sdfootnote23anc" href="#sdfootnote23sym"><sup>23</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Namun demikian bagi golongan kontekstualis seperti Fazlur Rahman, ia mengemukakan metode memahami nash al-Qur’an dan hadist yang terkenal dengan istilah <em>double movement</em> (gerak ganda) artinya ia tidak hanya memahami nash al-Qur’an dan al-Hadist itu dari segi teks tapi harus dilihat sebab-sebab yang melatarbelakangi teks itu diturunkan. Maka, jika kita menengok sejarah masa lampau dijelaskan bahwa kaum perempuan sebelum datangnya Islam dipandang rendah oleh Bangsa Arab. Ia tidak menerima warisan namun bisa diwarisi oleh anak-anaknya. Bahkan diasumsikan perempuan itu membawa sial, tidak kuat berperang sehingga tidak heran bila anak perempuan lahir maka dibunuhnya. Kasus seperti ini pernah dialami oleh Umar bin Khattab sebelum ia masuk Islam. Oleh sebab itu Islam datang dengan mengangkat derajat kaum perempuan yang dulunya tidak mendapatkan waris, lalu mendapatkan waris dengan bagian separoh. Jadi begitulah posisi perempuan pada zaman jahiliyah yang tidak banyak memiliki peran, sedangkan dalam kehidupan modern seperti sekarang ini, kaum perempuan sudah memiliki kesempatan yang sama dengan kaum laki-laki dalam segala aspek kehidupan.<sup><a name="sdfootnote24anc" href="#sdfootnote24sym"><sup>24</sup></a></sup></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<ol>
<li>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><strong>Komentar 	Penulis</strong></p>
</li>
</ol>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">Tokoh dibalik ide-ide reaktualisasi ajaran Islam, pembenahan lembaga-lembaga pendidikan Islam, penguatan keberadaan Pengadilan Agama, pengiriman dosen IAIN untuk studi ke negara-negara Barat dan Kompilasi Hukum Islam yang digagas oleh Departemen Agama adalah Munawir Syadzali. Munawir merupakan tokoh di balik gagasan yang cemerlang dan terobosan yang cenderung berani. Langkah Munawir ini bisa dikatakan sebagai solusi atas kebekuan pemikiran Islam. Meski tidak sedikit yang menentang tentang ide pembaharuan yang dianggap sebagai pemikiran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.</p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="text-indent:1.27cm;margin-bottom:0;" align="justify"><span style="color:#000000;"> </span></p>
<p style="text-indent:.64cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">
<p style="margin-left:1.27cm;margin-bottom:0;">
<p style="margin-bottom:0;page-break-before:always;" align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="center">
<p style="margin-left:1.59cm;text-indent:-1.59cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify">__________. 2004. Istinbath: <em>Jurnal Hukum dan Ekonomi Islam</em>. Mataram: STAIN Mataram.</p>
<p style="margin-left:1.59cm;text-indent:-1.59cm;line-height:150%;"><span style="font-size:small;">Munawir Sjadzali. 1994. </span><span style="font-size:small;"><em>Reaktualisasi Ajaran Islam. </em></span><span style="font-size:small;">Bandung: PT Remaja Rosdakarya.</span></p>
<p style="margin-left:1.59cm;text-indent:-1.59cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.averroes.or.id/"><span style="color:#000000;">http://www.averroes.or.id</span></a></span></span></p>
<p style="margin-left:1.59cm;text-indent:-1.59cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.depag.web.id/research/diklatad/m170.html"><span style="color:#000000;">http://www.depag.web.id/research/diklatad/m170.html</span></a></span></span></p>
<p style="margin-left:1.59cm;text-indent:-1.59cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.ditpertais.net/jurnal/vol62003lo.asp"><span style="color:#000000;">http://www.ditpertais.net/jurnal/vol62003lo.asp</span></a></span></span></p>
<p style="margin-left:1.59cm;text-indent:-1.59cm;margin-bottom:0;line-height:150%;" align="justify"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://74.125.153.132/search?q=cache:9Ql3b39xGGEJ:syukriab.wordpress.com/"><span style="color:#000000;">http://74.125.153.132/search?q=cache:9Ql3b39xGGEJ:syukriab.wordpress.com/</span></a></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://fahmi.com/reaktualisasi+ajaran+islam/"><span style="color:#000000;">http://fahmi.com/reaktualisasi+ajaran+islam/</span></a></span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;line-height:150%;"><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/munawir-sjadzali/index.shtml"><span style="color:#000000;">http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/munawir-sjadzali/index.shtml</span></a></span></span></p>
<div id="sdfootnote1">
<p align="justify"><a name="sdfootnote1sym" href="#sdfootnote1anc">1</a><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.averroes.or.id/"><span style="color:#000000;">http://www.averroes.or.id</span></a></span></span> diakses pada tanggal 24 april 2009.</p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="justify"><a name="sdfootnote2sym" href="#sdfootnote2anc">2</a><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/munawir-sjadzali/index.shtml"><span style="color:#000000;">http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/munawir-sjadzali/index.shtml</span></a></span></span>, 	diakses pada tanggal 15 Mei 2009.</p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p align="justify"><a name="sdfootnote3sym" href="#sdfootnote3anc">3</a> Istinbath, <em>Jurnal Hukum dan Ekonomi Islam</em>, (STAIN Mataram, 	2004), hal. 56.</p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p align="justify"><a name="sdfootnote4sym" href="#sdfootnote4anc">4</a> Ibid., <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.averroes.or.id/"><span style="color:#000000;">http://www.averroes.or.id</span></a></span></span>.</p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="justify"><a name="sdfootnote5sym" href="#sdfootnote5anc">5</a> Ibid.</p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p align="justify"><a name="sdfootnote6sym" href="#sdfootnote6anc">6</a> Istinbath, <em>Op. Cit</em>., hal. 57</p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p align="justify"><a name="sdfootnote7sym" href="#sdfootnote7anc">7</a> Ibid.</p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p align="justify"><a name="sdfootnote8sym" href="#sdfootnote8anc">8</a> <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.depag.web.id/"><span style="color:#000000;">http://www.depag.web.id/</span></a></span></span>, 	diakses pada tanggal 28 April 2009.</p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p align="justify"><a name="sdfootnote9sym" href="#sdfootnote9anc">9</a> Istinbath, <em>Op. Cit.</em>, hal. 58.</p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p align="justify"><a name="sdfootnote10sym" href="#sdfootnote10anc">10</a> <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.ditpertais.net/jurnal/vol62003lo.asp"><span style="color:#000000;">http://www.ditpertais.net/jurnal/vol62003lo.asp</span></a></span></span> diakses pada tanggal 15 Mei 2009.</p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p align="justify"><a name="sdfootnote11sym" href="#sdfootnote11anc">11</a><span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#000000;">.<a href="http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/munawir-sjadzali/indexs.html">http://tokohindonesia.com/ensiklopedi/m/munawir-sjadzali/indexs.html</a></span></span></span> diakses pada tanggal 15 Mei 2009.</p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p align="justify"><a name="sdfootnote12sym" href="#sdfootnote12anc">12</a> Ibid.</p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p align="justify"><a name="sdfootnote13sym" href="#sdfootnote13anc">13</a> <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://www.averroes.or.id/"><span style="color:#000000;">http://www.averroes.or.id</span></a></span></span> diakses pada tanggal 24 april 2009.</p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p align="justify"><a name="sdfootnote14sym" href="#sdfootnote14anc">14</a> Ibid.</p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p align="justify"><a name="sdfootnote15sym" href="#sdfootnote15anc">15</a> Ibid., 60-61.</p>
</div>
<div id="sdfootnote16">
<p align="justify"><a name="sdfootnote16sym" href="#sdfootnote16anc">16</a> Ibid., 61.</p>
</div>
<div id="sdfootnote17">
<p align="justify"><a name="sdfootnote17sym" href="#sdfootnote17anc">17</a> Ibid., 63.</p>
</div>
<div id="sdfootnote18">
<p align="justify"><a name="sdfootnote18sym" href="#sdfootnote18anc">18</a> Istinbath, <em>Op, Cit.</em></p>
</div>
<div id="sdfootnote19">
<p align="justify"><a name="sdfootnote19sym" href="#sdfootnote19anc">19</a> Ibid.</p>
</div>
<div id="sdfootnote20">
<p align="justify"><a name="sdfootnote20sym" href="#sdfootnote20anc">20</a> Ibid., 59.</p>
</div>
<div id="sdfootnote21">
<p align="justify"><a name="sdfootnote21sym" href="#sdfootnote21anc">21</a> Ibid.</p>
</div>
<div id="sdfootnote22">
<p><a name="sdfootnote22sym" href="#sdfootnote22anc">22</a> <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://fahmi.com/reaktualisasi+ajaran+islam/"><span style="color:#000000;">http://fahmi.com/reaktualisasi+ajaran+islam/</span></a></span></span> diakses pada tanggal 27 april 2009.</div>
<div id="sdfootnote23">
<p><a name="sdfootnote23sym" href="#sdfootnote23anc">23</a> <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><a href="http://74.125.153.132/search?q=cache:9Ql3b39xGGEJ:syukriab.wordpress.com/"><span style="color:#000000;">http://74.125.153.132/search?q=cache:9Ql3b39xGGEJ:syukriab.wordpress.com/</span></a></span></span>. 	Diakses pada tanggal 27 Mei 2009.</div>
<div id="sdfootnote24">
<p><a name="sdfootnote24sym" href="#sdfootnote24anc">24</a> Ibid.</div>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyya.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyya.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyya.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyya.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyya.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyya.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyya.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyya.wordpress.com/320/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyya.wordpress.com/320/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyya.wordpress.com/320/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=320&subd=diyya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyya.wordpress.com/2009/06/29/munawir-sjadzali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a12056b728f0bfe5d0d1e08022c3b4fe?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menanti Cinta</title>
		<link>http://diyya.wordpress.com/2009/06/26/menanti-cinta/</link>
		<comments>http://diyya.wordpress.com/2009/06/26/menanti-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 08:42:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>diyya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://diyya.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Sejak lama aku berdiri
Dalam sepinya rongga hati
Tak satupun guru mampu menjawab
Hanya padaMu ku bertanya
Lewat setiap sujudku ini
Siapakah nanti cinta untukku
Wahai penilai hati lihat batinku
Nyaris bernanah karna luka tersayat
Merana menantikan kisah dan kasih hidupku
Rahasia itu hanya Kau yang tahu
Namun aku tak mau jadi tuna cinta
Tuntun hatiku dalam sabar menanti jodohku
Hanya padaMu ku bertanya
Lewat setiap sujudku ini
Siapakah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=318&subd=diyya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sejak lama aku berdiri<br />
Dalam sepinya rongga hati<br />
Tak satupun guru mampu menjawab<span id="more-318"></span></p>
<p>Hanya padaMu ku bertanya<br />
Lewat setiap sujudku ini<br />
Siapakah nanti cinta untukku</p>
<p>Wahai penilai hati lihat batinku<br />
Nyaris bernanah karna luka tersayat<br />
Merana menantikan kisah dan kasih hidupku</p>
<p>Rahasia itu hanya Kau yang tahu<br />
Namun aku tak mau jadi tuna cinta<br />
Tuntun hatiku dalam sabar menanti jodohku</p>
<p>Hanya padaMu ku bertanya<br />
Lewat setiap sujudku ini<br />
Siapakah nanti cinta untukku</p>
<p>Wahai penilai hati lihat batinku<br />
Nyaris bernanah karna luka tersayat<br />
Merana menantikan cinta dan kasih hidupku</p>
<p>Rahasia itu hanya Kau yang tahu<br />
Namun aku tak mau jadi tuna cinta<br />
Tuntun hatiku dalam sabar menanti jodohku</p>
<p>Rahasia itu hanya Kau yang tahu<br />
Namun aku tak mau jadi tuna cinta<br />
Namun harus ku ihklaskan semua nasib cintaku&#8230;<br />
PadaMu&#8230;</p>
<p>Lirik Lagu menanti cinta</p>
<p>OST Ketika Cinta Bertasbih, by Krisdayanti</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/diyya.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/diyya.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/diyya.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/diyya.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/diyya.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/diyya.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/diyya.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/diyya.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/diyya.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/diyya.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=diyya.wordpress.com&blog=1933893&post=318&subd=diyya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://diyya.wordpress.com/2009/06/26/menanti-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a12056b728f0bfe5d0d1e08022c3b4fe?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">diyya</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>