Perpisahan memang identik dengan rasa kesedihan. Berpisah dengan orang lain, terutama jika berpisah dengan orang terdekat, akan menimbulkan rasa kehilangan. Tapi jika ditinggal oleh orang karena akan melaksanakan suatu tugas atau urusan tertentu, seperti seorang anak pergi untuk menimba ilmu yang jauh dari kampung halaman, maka kesedihan akan terasa berbeda. Terlebih jika kita berpamitan dengan orang yang akan pergi haji, rasa senang, sedih, haru, bangga, khawatir, bahkan takut tidak bisa bertemu selepas pelaksanaan haji selesai, akan bercampur jadi satu. Setidaknya pengalaman ini yang pernah saya rasakan ketika mengiringi kepergian abah menuju ke makkah. Namun alhamdulillah abah pulang dengan sehat dan selamat, serta dalam keadaan iman yang bertambah, insyaAllah.
Namun, lain halnya dengan mbah putri (ibu dari abah). Pada sekitar tahun 76, mbah putri melaksanakan haji untuk pertama kalinya, seorang diri tanpa didampingi oleh mbah kung. Karena mbah kung telah terlebih dahulu berangkat haji sebagai jama’ah haji yang ditunjuk khusus oleh menteri agama (kyai masykur) untuk memimpin jama’ah haji kapal laut “Belle Abeto” kala itu. Akhirnya mbah putri berangkat didampingi oleh seorang teman.









Recent Comments