09
Aug
08

Hadits

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hadis Shahih

1. Ta’rif Hadis Shahih

Hadis shahih menurut bahasa artinya hadis yang sehat atau hadis yang bersih dari cacat. Sedangkan definisi hadis shahih itu sendiri menurut ulama Al-Mutaakhirin[1] adalah:

“Adapun hadis shahih adalah hadis yang sanadnya bersambung (sampai kepada Nabi, diriwayatkan oleh (perawi) yang adil dan dhabit sampai akhir sanad, tidak ada janggalan dan berillat”

Selain definisi diatas sebenarnya masih banyak lagi pengertian yang dikemukakan oleh para ulama, yang memiliki redaksi yang berbeda-beda. Tetapi pada dasarnya tetap memiliki esensi yang sama.

Dari definisi-definisi yang dimiliki oleh para ulama, maka dapat disimpulkan bahwa syarat-syarat hadis shahih adalah:

1. Musnad (sanadnya bersambung)

2. Perawinya bersifat adil

3. Perawinya bersifat dhabit

4. Hadis itu selamat dari syadz

5. Hadis itu tidak terkena illat

Penjelasan tentang masing-masing syarat diatas adalah sebagai berikut:

1. Musnad (sanadnya bersambung)

Musnad yaitu sanadnya bersambung, artinya dalam periwayatan hadis telah terjadi pertemuan antara perawi yang diatas maupun yang dibawahnya, hal ini dikenal dengan istilah liqa’.[2] Dengan demikian dapat dikatakan bahwa rangkaian para perawi hadis sejak perawi terakhir sampai kepada para sahabat yang menerima hadis langsung dari Rasulullah bersambung dalam periwayatannya.

2. Perawinya bersifat adil

Yang dimaksud dengan perawi yang adil disamping harus muslim, baligh, dan berakal sehat, para ulama berbeda pendapat mengenai kriteria-kriteria mengenai sifat lain yang harus ada. Sifat-sifat itu antara lain sebagai berikut:

o Tidak pernah melakukan dosa besar dan tidak berulang kali melakukan dosa kecil

o Menjaga sifat Muru’ah, yaitu senantiasa menjaga kehormatannya sesuai dengan kedudukannya[3].

o Senantiasa menjalankan perintah agama dan meninggalkan semua larangannya[4]

3. Perawinya bersifat dhabit

Dhabit artinya orang yang hafal dan teliti sehinga ia hafal apa yang ia dengar dan ia dapat mengulangnya dengan mudah. Artinya bahwa orang yang disebut dhabit itu haruslah dapat mendengarkan secara utuh apa yang diterima dan memahami sehingga isinya terpatri dalam ingatannya, kemudian mampu menyampaikan kepada orang lain. Singkatnya orang yang dhabit itu mempunyai 3 fungsi otak yang baik[5] yaitu 1). Retention (mengecamkan), 2) Remembering (mengingat), 3) Recalling (Mereproduksikan kembali).

Dhabit pada periwatan hadis ini ada dua kategori, yaitu dhabit as-Sadr (terpeliharanya periwayatan dalam ingatan, sejak ia menerima hadis sampai ia meriwayatkan kembali pada orang lain) dan dhabit al-Kitab (terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan).[6]

Adapaun ke-dhabitan para perawi itu menurut ulama dapat diketahui melalui: 1) kesaksian para ulama, dan 2) kesesuaian riwayatnya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal ke-dhabitannya.[7]

4. Hadis itu selamat dari syadz

Syadz menurut bahasa artinya menyendiri.[8] Dan syadz yang dimaksud disini adalah suatu hadis yang bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh perawi lain yang lebih kuat atau lebih tsiqah (dhabit dan adil). Sehingga dari sini dapat dipahami bahwa matan yang tidak syadz adalah matan yang tidak bertentangan dengan hadis yang lain yang lebih kuat atau yang lebih tsiqah.

5. Hadis itu tidak terkena illat

Kata illat secara bahasa berarti cacat, penyakit dan lain-lain. Dari pengertian ini maka dapat diketahui bahwa yang dimaksud hadis yang tidak terkena illat adalah hadis yang tidak mempunyai cacat atau penyakit. Atau dapat didefinisikan juga sebagai hadis yang tidak terdapat kesalahan atau keragu-raguan. Apabila dalam suatu hadis terdapat illat, maka itu akan mengakibatkan kualitas hadis tersebut menjadi tidak shahih.

Illat hadis dapat terjadi pada sanad maupun matan, bahkan bisa juga terjadi pada keduanya secara bersamaan. Namun demikian illat yang paling banyak itu terjadi pada sanad, seperti menyebutkan muttashil terhadap hadis yang munqathi’atau mursal.[9]

Apabila suatu hadis sudah memenuhi kelima syarat tersebut, maka dapat ditetapkan sebagai hadis yang shahih dan dapat dijadikan sebagai hujjah. Namun ada sebagian ulama yang masih menetapkan syarat bahwa hadis shahih itu paling sedikit mempunyai dua sanad, pendapat ini disampaikan antara lain oleh Abu ‘Ali al-Jubai dari golongan Mu’tazilah,[10] dan lain sebagainya.

2. Macam-macam Hadis Shahih

Para ulama hadis membagi hadis shahih dibagi menjadi dua macam, yaitu:

1. Sahih lidzatih

2. Shahih lighairih[11]

Adapun pembahasan dua macam hadis shahih tersebut adalah sebagai berikut:

1. Shahih lidzatih

Shahih lidzatih secara bahasa artinya “yang sah karena dzatnya”, sedangkan hadis shahih lidzatih yang dimaksud adalah hadis yang memenuhi seluruh persyaratan keshahihan hadis secara lengkap. Contohnya sebagai berikut:

Artinya: “Bukhari berkata: Telah menceritakan kepada kami “Abdullah bin Yusuf, (ia berkata) telah mengabarkan kepada kami, Malik, dari Nafi’, dari Abdullah bahwa Rasulullah Saw. Bersabda: “Apabila mereka bertiga, janganlah dua orang berbisik tanpa ikut serta orang yang ketiga”.[12]

Hadis diatas apabila disusun dengan tertib akan jadi seperti berikut:

  1. Bukhari
  2. Abdullah bin Yusuf
  3. Malik
  4. Nafi’
  5. Abdullah (Ibnu Umar)
  6. Rasulullah

Dari perawi yang pertama tersebut menerima hadis dari perawi yang ke-dua, perawi yang ke-dua menerima dari yang ke-tiga dan seterusnya dan sampai kepada Abdullah. Dan Abdullah itulah sahabat Nabi yang mendengar Nabi bersabda seperti yang tercantum diatas. Rawi-rawi tersebut dari yang pertama sampai yang kelima, semua bersifat adil, dapat dipercaya, dhabit dan benar-benar bersambung. Dari hadis tersebut tidak ditemukan cacat baik pada sanad maupun pada matan, sehingga dapat di-identifikasikan sebagai hadis shahih lidzatih.

2. Shahih Lighairih

Shahih lighairih secara bahasa artinya “benar karena yang lainnya”. Secara istilah dapat dipahami bahwa shahih lighairih di sini lebih mengacu pada hadis shahih yang bisa menjadi shahih karena sesuatu yang lain, atas topangan hadis lain, atau karena di dalamnya terdapat satu syarat yang kurang dipenuhi.[13] Contoh:

Artinya: “Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah bersabda: “Sekiranya aku tidak menyusahkan umatku, tentu aku menyuruh mereka bersiwak (menggosok gigi) setiap shalat”

Apabila suatu hadis diriwayatkan oleh lima buah sanad, maka hadis itu dihitung bukan sebagai satu hadis, tetapi lima hadis. Hadis yang diriwayatkan oleh empat buah sanad, dihitung sebagai empat buah hadis, jadi hadis tersebut di atas, yang diriwayatkan oleh Bukhari dengan sanad tersendiri dan Tirmidzi dengan sanad tersendiri pula, dihitung sebagai dua hadis. Pertama adalah hadis Bukhari, yang dinilai sebagai hadis lidzatih, dan kedua hadis Tirmidzi. Karena diperkuat oleh hadis Bukhari, hadis Tirmidzi naik tingkatannya menjadi hadis shahih lighairih.

B. Hadis Hasan

1. Ta’rif

Hasan menurut bahasa berarti yang disenangi atau yang diingini. Sedangkan hasan menurut istilah, para ulama berbeda dalam mendefinisikannya. Ibnu Hajar memberikan definisi:

“Hadis yang dinukilkan oleh orang yang kurang sedikit kedhabitannya, bersambung-sambung sanadnya sampai kepada Nabi Saw. dan tidak mempunyai illat serta tidak syadz”.[14]

Menurut Imam Turmudzi yang dimaksud hasan adalah:

“Hasan menurut pendapat kami, ialah hadis yang selamat dari syadz dan selamat dari orang-orang yang tertuduh, dan hadis itu diriwayatkan melalui beberapa jalan (tidak hanya satu wajah/sanad)”.[15]

Menurut Khaththabi, hadis hasan adalah:

“Hadis hasan adalah hadis yang dikenal perawi-perawinya dan masyhur sumber atau tempat keluarnya”.[16]

Hadis hasan menurut buku ajar studi hadis adalah hadis yang sanadnya bersambung, dinukil oleh periwayat yang adil namun tidak terlalu dhabit serta terhindar dari syadz dan illat.[17]

Tidak ditemukan kontradiksi dari definisi-definisi yang dikemukakan diatas, hanya redaksinya saja yang berbeda, dan apabila digabungkan, maka akan melengkapi satu sama lain.

2. Macam-macam Hadis Hasan

Sama halnya dengan hadis shahih, hadis hasan dibagi menjadi dua:

1. Hasan lidzatih

2. Hasan lighairih

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

1. Hasan Lidzatih

Pada hasan lidzatih ingatan peraiwinya setingkat dibawah hadis shahih dengan memunculkan aspek ke-hasanannya.[18]

2. Hasan Lighairih

Pada hasan lighairih dalam rangkaian sanadnya terdapat orang yang tidak diketahui kelayakan atau tidak layaknya untuk diterima riwayat hadisnya, tapi dia bukan orang yang lengah dan suka berbuat dusta dan salah.[19] Contoh:

Artinya: “Rosulullah Saw. bersabda: “Merupakan hak atas kaum muslimin mandi pada hari jum’at”.

Hadis tersebut diterima oleh Turmudzi melalui dua sanad yang akan digambarkan sebagai berikut:

Rasulullah Saw.

Barra bin Azib

Abdurrahman bin Abi Laila

Yazid bin Ziyad

Abu Yahya bin Ibrahim Hasyim

Ibrahim at-Turmudzi

Ali bin Hasan al-Kufi Ahmad bin Mani

Turmudzi

Hadis di atas diterima oleh Turmudzi melalui dua sanad:

1. Dari Ali bin Hasan al-Kufi, dari Abu Yahya bin Ibrahim at-Taimi, dari Yazid bin Ziyad, dari Abdurrahman bin Abi Laila, dan Barra bin Azib, dari Rasulullah Saw.

2. Dari Ahmad bin Mani, dari Hasyim, dari Yazid bin Ziyad, dari Abdurrahman bin Abi Laila, dari Barra bin Azib, dari Rasulullah Saw.

Rawi dari sanad pertama terpercaya, kecuali Abu Yahya bin Ibrahim at-Taimi yang lemah hafalannya. Karena itu, hadis yang diriwayatkan oleh sanad kedua ini juga dipandang dhaif. Kedua hadis itu (karena ada dua sanad, maka dihitung dua hadis) saling menguatkan, sehingga masing-masing naik menjadi hasan lighairih.

C. Hadis Dhaif dan Pembagiannya

Hadis dhaif adalah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis shahih dan syarat hadis hasan.

Ada banyak macam-macam hadis dhaif ditinjau dari berbagai sudut pandangnya. Diantaranya adalah Dhaif dari sudut sandaran matannya (karena keterputusan sanad) dan masih ada lagi dhaif sebab lain dari pada keterputusan sanad. Berikut akan dijelaskan tentang hadis dhaif ditinjau dari sudut sandaran matannya:

a) Hadis Mu’allaq, yaitu hadis yang dari permulaan sanadnya gugur seorang rawi atau lebih, dengan berturut-turut.[20] Sesungguhnya hadis mu’allaq memiliki dua pengertian, pertama hadis yang dibuang semua sanadnya, dan yang kedua hadis yang dibuang sanadnya kecuali sahabat.

Hadis tersebut termasuk mu’allaq karena semua rawi dalam sanad hadis tersebut dibuang kecuali sahabat, yakni Abu Musa.

b) Hadis Mu’dhal, yaitu hadis yang telah gugur dua orang perawi atau lebih dalam satu tempat secara berturut-turut. Contoh:

Hadis diatas dikatakan Mu’dhal karena ada dua orang perawi yang mengantarai Imam Malik dan Abi Hurairah, yakni Muhammad ibn Ajian dan ayahnya.[21]

c) Hadis Munqathi’, yaitu suatu hadis yang ditengah sanadnya gugur seorang rawi atau lebih, namun tidak berturut-turut. Contoh:

Dari contoh diatas , ada keterputusan sanad antara as-Sauri dan Abu Ishak.[22]

d) Hadis Mudallas, yaitu hadis yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan bahwa hadis tersebut tidak cacat.

Dari contoh diatas , Ibnu ‘Uyainahmenghilangkan perawi antara dirinya dengan al-Zuhri.[23]

e) Hadis Mursal, yaitu hadis yang gugur sanadnya. Contoh:

Said ibn Musayyab adalah seorang tabi’in, namun ia meriwayatkan hadis langsung dari Rasulullah. Berarti ada keterputusan pada tingkat sahabat, sehingga hadis ini dinamakan hadis mursal.[24]

f) Hadis Mauquf, yaitu hadis yang diriwayatkan dari para sahabat berupa perkataan, perbuatan dan taqrirnya.[25] Contoh:

g) Hadis Maqtu’, adalah hadis yang diriwayatkan dari tabi’in baik berupa perkataan, perbuatan dan taqrirnya. Contoh:

Hadis tersebut dinamakan maqtu’ karena berupa perkataan yang dikemukakan oleh tabi’in, yakni Hasan al-Bashri.[26]


[1] Mudasir, Ilmu Hadis (Bandung: Pustaka setia, 2005) hlm. 144-145

[2] Umi Sumbulah, Studi Hadis, hlm. 42

[3] Moh. Anwar, Ilmu Mushthalah Hadits (Surabaya: Al Ikhlas, 1981), hlm.35

[4] Mudasir, Ilmu Hadis (Bandung: Pustaka setia, 2005) hlm. 147

[5] Anwar, Ilmu Mushthalah, hlm.35

[6] [6] Mudasir, Ilmu Hadis, hlm. 147

[7] Ibid.

[8] Moh. Anwar, Ilmu Mushthalah, hlm.36

[9] Mudasir, Ilmu Hadis, hlm. 148

[10] Moh. Anwar, Ilmu Mushthalah, hlm.37

[11] Qadir Hasan, Ilmu Mushthalah Hadits (Bandung: Diponegoro, 1983), hlm. 29

[12] Ibid. hlm. 30

[13] Umi Sumbulah, Studi Hadis, hlm.42

[14] Moh. Anwar, Ilmu Mushthalah, hlm. 60

[15] Ibid

[16] Ibid

[17] Umi Sumbulah, Studi Hadis, hlm. 42

[18] Ibid

[19] Ibid

[20] Moh. Anwar, Ilmu Mushthalah, hlm. 92

[21] Umi Sumbulah, Studi Hadis, hlm. 44

[22] Ibid.

[23] Ibid.

[24] Ibid, 43

[25] Ibid.

[26] Ibid.


6 Responses to “Hadits”


  1. 1 Muslim Hasyim
    8 November 2009 at 5:15 pm

    Terima kasih atas tulisannya

  2. 2 diyya
    9 November 2009 at 2:30 am

    sama2, semoga bermanfaat.

  3. 3 m.rasyid
    25 December 2009 at 1:23 am

    makasih jg atas tulisan yg di muat’sy bisa jkn bahan utk tugas al_qur’an hadits

  4. 4 muchamad hafi ghifari
    4 April 2010 at 12:52 pm

    mksh ya mba buat tulisannya….
    jd bisa buat bljar saya.
    aku ambil yg tntng hadis

  5. 5 khya
    19 April 2011 at 9:02 am

    ma ksih kak. tlisanx sgt mmbntu z.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: