Study al-Qur’an

Pandangan Orientalis terhadap Muatan Hukum Al-Qur’an

Oleh:

Abdul Aziz

Nur Khamidiyah

A. Pendahuluan

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad sebagai petunjuk terhadap orang Islam dalam segala hal, baik masalah duniawi maupun ukhrawi, dari sini segala perilaku orang muslim banyak dipengaruhi oleh doktrin al-Qur’an. Al-Qur’an sebagai nahkoda atau pilar tehadap orang Islam tentu mendapat kecaman dari seteru abadinya (orang-orang non Muslim). Karena dengan menghancurkan al-Qur’an mereka yakin akan lebih mudah untuk menghancurkan aqidah kita (orang Islam). Sebab segala prinsip orang Islam di ambil dari Al-Qur’an dan Hadis, sehingga cara terbaik untuk menghancurkan Islam ialah dengan cara menghancurkan sumbernya.

Dari beberapa upaya para ilmuan non muslim sebut saja tokoh-tokoh orientalis, dalam menghujat keabsahan al-Qur’an, antara lain mereka menghujat tentang kompilasi al-Qur’an, transformasi al-Qur’an, struktur al-Qur’an baik dalam maupun luar dan kandungan muatan hukum al-Qur’an. Dari beberapa upaya ini, mereka semata-semata mempunyai misi kristenisasi disamping terdapat kepentingan politik yang tidak bisa dipisahkan. Namun dalam makalah ini kami lebih tertuju untuk membahas tentang muatan hukum al-Qur’an, karena muatan hukum al-Qur’an merupakan jembatan terakhir orientalis untuk menghancurkan keabsahan al-Qur’an. Dan hukum yang dihasilkan al-Qur’an merupakan pacuan utama orang Islam untuk mereka ikuti.

B. Pandangan Orientalis terhadap Muatan Hukum Al-Qur’an

1. Metode Orientalis Dalam Studi Al-Qur’an

Dewasa ini, islamolog barat mengembangkan studi Islam dalam bidang Quranic Studies diberbagai Universitas di Eropa Barat dan Amerika. Perhatian dan kecenderungan islamolog Barat dalam studi Al-Qur’an perlu diidentifikasi, baik pada konsep subtansialnya maupun dalam metodologinya. Karena dengan mengidentifikasi metode yang mereka gunakan dapat dipahami struktur logika internal dari suatu metode pendekatan yang mengharuskan munculnya suatu konklusi. Namun apakah konklusi tersebut sesuai dengan ajaran Islam atau tidak, karena biasanya konklusi itu bercorak menurut metodologinya..

Metodologi yang dipakai sarjana barat dalam mendekati Al-Qur’an ada tiga yaitu:

a. Pendekatan Historis

Metode semacam ini muncul pada abad 19, yang dipelopori oleh Leopold Von Ranke (1795-1886). Historis berpandangan bahwa suatu entitas, baik itu intuisi, nilai-nila maupun agama berasal dari lingkungan fisik, sosio cultural dan sosio religius tempat entitas itu muncul. Prinsip historisme menurut Meinecke adalah mencari kausalitas peristiwa historis, dan kausalitas itu tidak berasal dari dunia metafisik atau trans-historis tetapi empiric sensual. Bias dari munculnya teori ini menurut Fuck-Franfurt mendorong kecendrungan dalam studi Al-Qur’an di Barat yang yang mengasalkan Al-Qur’an dari kitab suci tradisi Yahudi dan Kristen.[1]

Sedangkan Sarjana barat yang menggunakan metode historisme dalam studi al-Qur’an ini antara lain adalah: Maxime Rodinson, Tor Andre, A. Jeffery dan lain-lain. Namun dalam penjelasan ini kami hanya akan menjelaskan pendapatnya J. Wasbrough yang mengasalkan al-Qur’an dari Tradisi Yahudi dan Perjanjian Lama dan Richard Bell yang mengasalkan al-Qur’an dari tradisi dan kitab suci Kristen.

Menurut Wansbrough (1977), Ajaran tentang kemukjizatan Al-Qur’an dipandang sebagai imitasi dari tradisi Yahudi tentang Taurat Musa, sehingga kumpulan ucapan dalam al-Qur’an dinaikkan derajatnya menjadi kitab suci yang mutlak kebenaranya.

Richard Bell mengatakan, al-Qur’an berasal dari ajaran Kristen. Pengaruh Kristen menurut Bell belum terjadi pada masa akhir Makkah dan awal Madinah. Indikasinya ialah surah Al-Ikhlas. Menurut Bell surat tersebut bukan polemik antara Muhammad dan orang Kristen, tetapi kepada orang musrik yang percaya bahwa Allah mempunyai tiga anak perempuan. Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5 yang menjelaskan manusia dari segumpal darah juga bukan konsep dari Bibel. Karena dari konsep Bibel manusia itu diciptakan dari tanah. Pada fase berikutnya terdapat kesamaan antara al-Qur’an dan Bibel, misalnya penolakan penyaliban Yesus, yang diambil dari satu sekte Kristen di Syiria[2]

Bell berpendapat bahwa wahyu yang dialami Muhammad merupakan peristiwa natural, bukan peristiwa supranatural. Pengetahuan tentang agama Kristen diaktualkan sebagi wahyu melalui trance-medium (keadaan tak sadar) dalam suasana mistik seperti kehidupan para dukun.[3] Bell mengartikan wahyu dengan sugesti yang muncul sebagai kilasan Inspirasi, baginya sugesti terjadi secara natural.[4]

b. Pendekatan Fenomenologis

Fenomologi di ambil dari bahasa Yunani, Phainestai, artinya “menunjukan dan menampakkan dirinya sendiri”. Hurssel menggunakan istilah fenomonologis untuk menunjukkan apa yang tampak dalam kesadaran kita dengan membiarkan termanifestasi apa adanya tanpa memasukkan buah pikiran kita kedalamnya, atau menurut Husserl: “Zuruck zuden zuden sachen selb” (kembalilah kepada realitas itu sendiri). Fenomenologi Husserl bertujuan mencari suatu fenomena dalam mencari esensi bermula dari membiarkan fenomena itu termanisfestasi apa adanya tanpa dibarengai prasangkan.[5]

Pendekatan semacam ini tidak melacak asal-usul suatu intuisi, tetapi dengan mengidentifikasi struktur internalnya. Tokoh-tokoh yang memakai pendekatan ini dalam studi al-Qur’an antara lain: Roest Crolius, Maurice BUcaille, Marcel A dan lain-lain. Namun kami akan memunculkan pemikiranya Marcell A. Bouisard yang tidak melihat sisi formal al-Qur’an sebagai firman Allah, tetapi sisi subtansinya. Boisard memandang bahwa nabi Muhammad adalah nabi yang sebenarnya. Muhammad hanya sebagai penyambung lidah wahyu yang abadi. Boisard juga memandang al-Qur’an berisi kebenaran universal dan bukan buatan manusia tetapi adalah wahyu Allah.[6]

c. Pendekatan Historis-Fenomenologis

Pendekatan ini mendekatkan dua metode di atas, pendekatan ini dipelopori oleh W. Montgomery Watt di lihat sebagai kegandaan sumber wahyu al-Qur’an , yaitu Tuhan dan nabi Muhammad. Wahyu al-Qur’an bersumber dari Allah tetapi diproduksi oleh Muhammad dalam konteks lingkungan dan sosio-religius (Yahudi dan Kristen). Watt dalam satu sisi tidak menolak Islam yang fundamelntal, tetapi disisi lain dia menerapkan pendekatan Historisme yang bertentangan dengan keyakinan Islam. Watt juga menolak malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu. Wahyu hanya dalam bentuk makna, bukan dalam bentuk lafal. Karena ada peranan Nabi Muhammad dalam subtansi wahyu, maka dari ini menurutnya dimungkinkan terhadinya keliru dalam al-Qur’an seperti tentang penolakan penyaliban Yesus dalam al-Qur’an (QS 4:157). Ajaran seperti ini menurut Watt diambil Muhammad dari sekte Kristen Syiria yang keliru.

Watt berkesimpulan bahwa dengan keterlibatan Nabi Muhammad dalam subtansi wahyu, maka bisa terjadi kekeliruan dalam Al-Qur’an bila kekeliruan seperti penolakan Yesus dihilangkan, maka Islam dan Kristen bisa bersatu.[7]

Maka dari pendekatan metodologi yang mereka gunakan dalam studi Al-Qur’an menghasilkan berbagai golongan aliran orientalis dalam mengkaji Al-Qur’an khususnya. Dimana golongan itu secara garis besar dibagi antar Orientalis yang mengkaji Al-Qur’an atau Islam secara objektif dan subjektif.

2. Pandangan Orientalis Terhadap Muatan Hukum Al-Qur’an

Salah satu tuduhan yang paling keji yang pernah dilontarkan oleh kaum orientalis adalah bahwa al-Qur’an tiada lain adalah karangan Muhammad saw, beliau menyusunnya dengan comot sana comot sini dari Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dengan kata lain dalam pandangan mereka, Islam adalah agama canmpuran yang merupakan kombinasi antara Yahudi, Kristen dan inovasi pribadi dari Muhammad saw. Sehingga menurut mereka tidak heran ketika al-Qur’an banyak menyebutkan legitimasi terhadapnya untuk menjelaskan al-Qur’an itu sendiri.seperti penggalan ayat “Dan kami turunkan kepadamu perimgatan(Al-Qur’an) agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan”

Abraham Geiger (1810-874), seorang intelektual dan pendiri gerakan Yahudi Liberal di Jerman, mengajukan teori mengenai pengaruh Yahudi terhadap al-Qur’an. Pada tahun 1833, dalam esainya yang berjudul “Apa Yang Telah Muhammad Pinjam Dari Yahudi ?”, memaparkan sejumlah indikasi bahwa al-Qur;an merupakan imitasi dari Taurat dan Injil antara lain dari segi kosa kata yang berasal dari bahasa Ibrani yaitu. Taabuut, Tauraat, Jahannam, Taaghuut, dan sebagainya. Selain itu, Geiger juga berkeyakinan bahwa muatan al-Qur’an sangat terpengaruh oleh agama Yahudi seperti penjelasan al-Qur’an mengenai: (a) hal-hal yang menyangkut keimanan dan doktrin, (b) peraturan-peratuan hukum dan moral dan (c) pandangan tentang kehidupan.[8]

Mengenai ayat-ayat di dalam al-Quran yang mengecam Yahudi, Geiger berpendapat bahwa kecaman itu disebabkan Muhammad telah menyimpang dan salah mengerti tentang doktrin-doktrin agama Yahudi.

Theodor Noldeke, seorang pendeta Kristen yang berasal dari Jerman juga menyoroti beberapa hal yang disebutnya sebagai ketidakakuratan Al-Qur’an.. Orientalis yang satu ini mengukur kebenaran al-Qur’an dari Bibel. Maka, apa pun yang terkandung di dalam al-Qur’an yang bertentangan dengan Bibel akan dianggap salah. Seperti penolakan al-Qur’an terhadap penyaliban Nabi Isa.[9]

Pendapat Thedodor Noldeke ini, diamini oleh Ricordo. Namun dia menambah bahwa Muhammad terdapat kesalahpahaman terhadap konsepsi-konsepsi biblical atau dogmatic Kristen, seperti masalah trinitas, penyaliban Isa, dan lainya

Arthur Jeffery, orientalis yang pernah mencoba membuat al-Qur’an edisi kritis, berpendapat bahwa kosa kata asing di dalam al-Qur’an mesti diteliti dan dirujuk hingga ke sumber asalnya. Dengan cara demikian, ia berharap bisa memahami sumber-sumber yang mempengaruhi Muhammad saw. dalam mengajarkan risalahnya. Karena menurutnya Muhammad termasuk orang yang haus darah, sehingga kebanyakan hukum yang terkandung dalam al-Qur’an bersifat tidak humanis. Pola pikir ini bermula dari sebuah konsep yang subjektif, yaitu bahwa Muhammad saw. adalah penulis al-Qur’an yang sebenarnya.. dimana ayat-ayat al-Qur’an banyak dihasilkan dari pada apa yang dilihat oleh Muhammad disekitarnya, seperti menyebarkan Islam dengan pedang, hukum rajam, qhisas dan lain-lain.[10]

Antonius Waleus, pendiri dan retor Semanirium Indicum, (1622-1632), dalam karyanya yang berjudul Opera Omnia, mengatakan bahwa al-Qur’an merupakan kitab suci yang disimpangkan dan penuh dengan pemikiran yang saling bertentangan. Seperti beberapa penggalan ayat yang menerangkan tentang Tuhan, yang digambarkan dengan wujud fisik yang sedang duduk atau berada di atas Kursi. [11] Tidak hanya itu, beberapa kandungan hukum al-Qur’an, banyak bertentangan dengan hukum moral dan hukum ketuhanan. Yang berkaitan dengan moral seperti legitimasi seorang dapat kawin lebih dari satu, di mana hal ini merupakan pelecehan seksual terhadap kaum perempuan.

Tidak hanya itu, menurutnya kandungan hukum al-Qur’an, sebut saja hukum pidana, banyak bersifat lokal dan tidak humanis, seperti hukum rajam, qishas dan lain-lain. Ini semua menurutnya (Kenneth Cragg) pengadopsian dari budaya yang berlaku ketika itu. Lebih pedas lagi ketika dia mengatakan bahwa sebenarnya Muhammad termasuk orang paling kejam dan paling berbahaya yang harus di hancurkan baik orangnya maupun Aqidahnya, sebab dia yang menyebabkan pertarungan antara saudara dan permusuhan antara sukunya sendiri, seperti pertarungan antara orang Qurais sendiri dan suku-suku lainya. sebab ajaran baru yang dibawanya membiaskan permusuhan antara mereka sendiri.[12]

3. Jawaban Terhadap Tudingan Orientalis terhadap Muatan Hukum Al-Qur’an

Dari beberapa tudingan miring yang dilontarkan oleh beberapa orientalis terhadap muatan hukum al-Qur’an khususnya dan Islam pada umumnya. Tidak lepas dari niat awal mereka dalam mengkaji al-Qur’an dan Islam, dimana antara lain niat mereka adalah mengusung misi tidak lain adalah untuk melemahkan aqidah orang Islam.

Tudingan Abraham Geiger yang mengatakan bahwa Muatan hukum al-Qur’an merupakan imitasi dari kitab-kitab terdahulu, ini bisa dibenarkan namun dalam masalah aqidah, terdapat perbedaan yang sangat mendasar, yaitu dalam al-Qur’an Allah suci dari punya anak, sedangkan dalam bible berbicara lain, seperti pengalan ayatnya yang berbunyi, “Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka.” (Kejadian 6:1-2)

Sedangkan tudingan Arthur Jeffery, yang mengatakan bahwa muatan hukum al-Qur’an tidak humanis dan menyeleweng dari moral, seperti hukum rajam, qishas, dan praktik poligami. Ini tidak benar, sebab masalah seperti poligami sudah ada sebelum Islam datang. kedatangan Islam hanya membatasi dan mengatur hukum perkawinan, sebab sebelum Islam datang terdapat variasi pernikahan yang pernikahan itu jauh dari nilai moral. Pembenaran hukum qishas, rajam dan lainya, dalam al-Qur’an menurut Tafsir Jalalain terdapat kehidupan dan sangat humanis, sebab ketika dia tahu bahwa kalau dia melakukan pembunuhan atau pidana dia akan dibunuh juga atau dibalas dengan balsan yang setimpal, maka dia enggan untuk melakukkanya.[13]

Tentang tudingan orientalis yang mengatakan bahwa al-Qur’an hasil dari buatan Muhamad bukan termasuk wahyu, ini dapat dipatahkan dengan ayat yang berbunyi,“Jika kalian tetap ragu terhadap apa yang telah kami turunkan kepada hambaku, maka datanglanlah satu surat yang semisalnya. Dan ajaklah penolong kalian selain Allah, jika kalian termasuk orang yang benar.”(QS. Al-Baqarah, ayat 23)

Tidak hanya itu al-Qur’an juga menetang dengan beberapa pengagalan ayat lain, yang lebih ringan dari kandungan ayat tersebut. Sedangkan bukti sejarah tidak pernah ada orang maupun makhluk yang lain yang bisa menandingi al-Qur’an.

Juga tudingan miring yang dilakukan para orientalis terhadap nabi Muhammad, bahwa Muhammad termasuk orang yang haus darah, provokasi yang membiaskan angin permusuhan antara keluarganya dan antara suku disana, ini semua hanya tudingan para orientalis yang bodoh dan benci terhadap Islam, karena kalau kita lihat dan kroscek tentang penyebaran Islam, Rasul tiada pernah menyimpang dari nilai-nilai kandungan al-Qur’an, seperti bunyi surat 2:91-2, yang intinya al-Qur’an tidak pernah menyuruh untuk memerangi mereka kecuali mereka memerangi dahulu. Sedangkan tudingan bahwa Muhammad adalah orang berbahaya yang menyebarkan angin permusuhan diantara sukunya sendiri dan keluarganya, semisal permusuhan nabi dengan pamanya sendiri (Abu Lahab), ini dapat dipatahkan dengan piagam Madianah. Dimana nabi Muhammad dapat mempersatukan umat disana.[14]

C. Penutup

Dalam penggalan ayat al-Qur’an menyebutkan yang intinya orang Kristen dan Yahudi tidak akan pernah ridha terhadap kita sehingga kita mengikuti agama mereka, maka dari bunyi ayat ini dapat kita simpulkan bahwa langkah atau upaya para orientalis dalam menanyakan keabsahan al-Qur’an sekaligus menghujatnya tidak lain karna mereka mengusung misi yang kita harus wapadai. Dari sini para orientalis dalam mengkaji al-Qur’an menggunakan tiga metode yaitu: historisme, fenomonologi dan gabungan anatara keduanya. Para orientalis dalam mengkaji al-Qur’an kebanyakan bersifat tidak objektif karena ini lagi-lagi berangkat dari niat mereka untuk mengkaji al-Qur’an, sehingga mereka menuding al-Qur’an yang tidak-tidak, yang tidak didasari dengan bukti yang valid. Sehingga tudingan tersebut dapat kita patahkan dengan mudah, dengan cara mengkaji al-Qur’an secara mendalam.

Selanjutnya penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini jauh dari sempurna, mengingat kendala yang kami hadapi yaitu minimalnya literature-literatur yang membahas tentang pandangan orientalis terhadap muatan hukum dalam al-Qur’an. Dengan modal pengalaman membaca dari media-media yang secara tidak langsung menyinggung tentang materi yang kami bahas di sini, sehingga dapat mengkristal dalam bentuk uraian-uraian sederhana seperti para pembaca dapat membacanya. Semoga makalah ini bermanfaat.


[1] Von Johann Fuck-Frankfurt, Die Originalitat Des Arashen Propheten, (Band 90, 1936), 510.

[2] Richard Bell, The Origin Of Islam in It’s Cristian Enviroment, (London: Macmillan, 1926), 67.

[3] Moh. Natsir Mahmud, Al-Qur’an DiMata Barat, (Al-Hikmah Tk. 1414 H), 9.

[4] Ricard Bell, Op Cit, 69.

[5] Samuel Ijsselina, Hermenutic and Textuality, Question Concering Phenomenology” dalam Studies Of Phenomenology And human Science, (Atlantics Hinglands: Humanities Press, 1979), 5.

[6] Moh Natsir, Mahmud. Op.cit., hlm. 11.

[7] W. Montgomery Watt, Islamic Revolution in The Modern World, (Edionburgh at The University Press 1969), 55.

[8] Hidayatullah, Menelusuri Akal Busk Orientalis@Google.com.

[9] Adnin Armas, Metodologi Bibel dalam Studi Al-Quran@Google.com.

[10] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al-Qur’an,( Yogyakarta: FKBA, 2001), 385.

[11] M. Fauzan Zenrif, Buku Ajar Ulumul Qur’an, (Malang: Fakultas Syari’ah UIN Malang, 2006), 83.

[12] Hidayatullah.com SKB Kepekaan Kaum Muslim, Jumat, 10 Desember 2004

[13] Sidogiri.Com. Akar Rapuh Orientalisme: Tonggak Pemikiran Liberalisme

[14] Wael B Hallaq, Sejarah Teori Hukum Islam. (Jakarta: Raja Wali Press, 2001), 352.

One thought on “Study al-Qur’an

  1. http://sangkebenaran.blogspot.com/

    Inilah contoh ajaran PEDOFILIA Muhammad:

    Dikisahkan Jabir bin ‘Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

    Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.

    A’isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun.

    Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

    Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A’isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

    Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

    Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s